Tulisan ini saya lengkapi foto guru relawan mengajar di tenda
Gempa dan gelombang tsunami yang menerjang bumi aceh empat belas tahun silam tepat tanggal dua puluh enam bulan desember tahun dua ribu empat silam bumi aceh terjadi duka yang sangat mendalam dengan ratusan ribu nya hilang serta menghancurkan harta benda di terjang gempa tsunami
Ratusan ribu nyawa melayang meninggal dunia di timpa musibah gempa dan gelombang tsunami dengan hitungan menit dan hitungan jam bergelimpangan manyat korban dari peristiwa dasyat ini. Ribuan rumah serta bangunan hancur, jalan jembatan rusak, dalam seketika lenyap di pandangan, kehilangan sanak keluarga dan anak anak, guru, petugas kesehatan, petani, nelayan dan berbagai lainnya menjadi korban.
Setelah gempa dan tsunami menerjang aceh, setiap hari setiap malam gempa susulan terjadi sehingga masyarakat trauma atas peristiwa tsunami, sedangkan manyat bergelimpangan dimana mana. Saya saat peristiwa tsunami tinggal di jalan menekroo lorong harimau desa drien rampak kecamatan Johan pahlawan Kabupaten aceh barat provinsi aceh yang jarak dengan laut lebih kurang dua kilometer, namun air tsunami masuk dalam rumah lebih kurang satu meter.
Dunia terasa sudah kiamat setelah peristiwa gempa dan gelombang tsunami, sehingga kekurangan sembako penunjang hidup semua masyarakat dan kekurangan air minum, listrik mati total dan minyak premium tidak ada. Pada tanggal delapan bulan januari tahun dua ribu lima saya melakukan rapat dengan teman teman di kantor sekaligus tempat tinggal saya, dalam rapat kami memutuskan untuk berpartisipasi di bidang pendidikan terutama yang harus di tangani segera.
Pada tanggal sembilan bulan januari tahun dua ribu lima kami merekrut guru relawan lebih kurang dua ratus orang yang di danai oleh lembaga sosial atau ngo jrs dan oxfam.
Guru guru relawan kami bebankan tugas membagi buku tulis, pensil, pulpen, penghapus, rol, dan sebagainya lengkap fasilitas pendidikan yang dibagi pada anak di tenda tenda pengungsi, karena tidak ada tas kami membungkus dalam kantong plastik yang kami bagi di Kabupaten aceh barat, Kabupaten aceh Jaya dan kabupaten nagan raya.
Tugas berikutnya bagi guru relawan yaitu mendata murid dan guru yang meninggal dengan sistem piket di rumah sekolah, setelah mulai aktif sekolah di tenda para guru relawan mengajar di tenda tenda pada pagi hari.
Pada sore hari guru guru relawan di beri tugas piket mengajar mengaji anak anak di tenda pengungsi, sehingga mereka full mengajar pagi sore paska gempa dan gelombang tsunami menerjang aceh.
Sungguh mulia kerja relawan guru paska gempa dan gelombang tsunami di aceh mereka mengajar pagi dan sore di tenda pengungsi yang hanya di berikan insentif tujuh ratus ribu rupiah (700.000) perbulan, memang ada sebagian relawan yang sudah jadi pns sekarang dan sebahagian lagi masih berstatus Honorer karena mereka mengabdi di tempat swasta.
Inilah sekilas cerita kenangan empat belas tahun silam, yang dapat saya sumbangkan bersama guru relawan bekerja sama dengan himpunan mahasiswa islam (hmi) pendidikan di tiga kabupaten yang di sponsor oleh ngo jrs, ngo oxfam, ngo rscj, ngo child fund dan ngo cafod terima kasih pada semua lembaga donatur dan terima kasih pada semua guru relawan, inilah partisipasi kecil yang dapat kami lakukan untuk meringankan beban masyarakat pada musibah tahun 2004 silam. Minggu 23 desember 2018 by