Ini kisah #steemians yang unik dan kadang mengundang tawa. Semua adalah kawan ku, yang demi rasa kusembunyikan identitasnya, hanya kutulis sebagai Adik Kesatu sampai kesekian atau Kakak Kesatu sampai kesekian, seperti dalam buku cerita berlatar perguruan silat.
[Kumpul bersama steemians, diskusi kecil | Dok pribadi]
Tulisan ini bukan untuk menggurui apalagi bertingkah sok tahu, hanya untuk pengingat minimal bagi sendiri sambil belajar dari kekeliruan yang pernah terbaca.
Cerita Pertama
Hampir sebulan yang lalu, Adik Kesatu riang bukan kepalang. Dia mengabarkan bahwasanya #steemit telah mengabulkan permintaannya bergabung. Password dikirim ke emailnya, sementara dia sedang berada di luar kota. “Nanti kalau sudah pulang, kita jumpa dan membuat tulisan perdana,” kataku memberi petunjuk.
Kembalilah Adik Kesatu dan kami berjumpa, beberapa kawan steemian ikut serta. Ramai seperti rapat membahas anggaran. Langkah pertama adalah memandu membuka akun sampai menyimpan password di tempat aman. Selanjutnya membuat postingan pertama, perkenalan diri alias introducemyself.
Tulisan perdana kelar dan langkah lanjut adalah panduan postingan. Cesss… satu tulisan tampil di akunnya lengkap foto-foto. Biar Adik Kesatu tak kecewa, kusebar link postingannya ke steemian yang mengenalnya. Ramai yang vote dan memberi komentar positif, nilai votenya mendekati $1.50 SBD. Permulaan yang baik.
Awal yang bagus tak berarti, setelah seminggu kemudian kupantau akunnya dibiarkan saja dengan satu postingan itu. Aku mengingatkannya, memberi semangat dan entah apa alasannya Adik Kesatu sampai kini masih membiarkan akunnya. Duh... lucu juga kurasa, karena susah payah awalnya mendaftar akun.
Hampir sama dengan Adik Kedua, yang menggebu membuat akun setelah tahu banyak kawan di ranah ini, tetapi kemudian membiarkannya pasif. Lumayan, dia punya empat postingan dan yang terakhir berumur sebulan lalu. “Kesal saja, nilai votenya selalu nol koma,” katanya suatu hari.
Berulang kali telah coba sampaikan kepada mereka, bahwa para punggawa yang telah jaya di steemit, juga memulainya dengan reward rendah. Sila tanya jika tak percaya.
Banyak lagi Adik dan Kakak yang kusaksikan seperti ini. Kucoba memompa semangat bak motivator ulung, karena bagiku untung mempunyai banyak sahabat baik untuk sama-sama membangun jaringan di steemit.
"Berkomunitas," kata para Suhu. Tapi tetap saja tanpa kemauannya sendiri, maka nihil. Dan kurasa banyak yang seperti itu, asal ada akun saja.
[Menyiapkan postingan bersama | Dok pribadi]
[Diskusi sambil promosi kepada kawan | Dok pribadi]
Cerita Kedua
Kusebut saja Adik Ketiga, karena akun ku lebih tua darinya kendati dari segi umur aku kalah. Sebulan lebih lalu, dia mengabarkan telah aktif di steemit lalu mengirim postingan perkenalan dirinya. Tulisannya keren karena dia memang jago menulis, tapi yang membuat aku geli, tag yang dipakainya keliru. Dia bukan menggunakan tag umum seperti #introduceyourself #introducemyself maupun lainnya, tetapi memakai nama orang yang mengajaknya bergabung ke steemit.
Aku cepat mengirim pesan lewat handphone menegur untuk mengubahnya karena kami berbeda kota, tapi sepertinya belum terbiasa dan sampai ketika menulis ini, tag keliru masih terpampang di tulisan pertamanya. Haha, cukuplah, ketahuan pula orangnya nanti. Sekarang dia sangat aktif dengan postingan berkelas.
Padahal menulis tag sangat penting untuk memudahkan steemians di seluruh dunia menelusuri postingan kita. Setidaknya begitu petuah kudengar, saat awal bergabung, dari banyak Suhu yang lama melanglang buana di dunia persilatan ini.
Soal tag juga kutemukan kisah Kakak Kesatu, yang bangga memperlihatkan akunnya lebih tua dari punya ku, tapi juga lama dibiarkan kosong. Berhasil mendorongnya untuk aktif kembali setelah tiga bulan lebih tanpa postingan.
Lalu dibuatlah postingan kembali yang kusarankan perkenalan diri, karena dia belum pernah melakukan itu. Setelahnya, dia mengirim pesan link postingannya, tag yang dipakainya aneh tak biasa. Lalu ku minta untuk mengubahnya. “Belum mengerti, harap maklum,” katanya.
Dia mulai aktif membuat postingan, mulai bersemangat lagi walau reward yang diterimanya minim. Semoga saja terus sampai tak berbatas waktu.
[Bersama para jurnalis, sebagiannya steemians | Dok pribadi]
Begitulah, nanti kusambung dengan kisah lain. Di sini juga perlu belajar, jangan segan bertanya jika tak paham, terpenting terus semangat dan bahagia bersama. []