Pertemuan yang unik di malam Ramadan, delapan steemians penikmat kopi bertatap muka pada sebuah warung di Beurawe, Banda Aceh, Rabu malam tadi. Lalu cerita mengalir saja tentang nasib di steemit dan dunia nyata. Seperti meetup kecil.
Kami adalah para pecinta kopi, memburu minuman itu ke warung-warung yang ramai di malam Ramadan. Siang berpuasa, tak ada kesempatan kumpul bareng.
Kami bertemu tanpa rencana matang dan janji, tetiba ramai saja dan setelah kulihat dari sebelas kami di meja itu, hanya tiga tak ber-akun steemit. Kususun saja orang-orangnya: ,
,
,
,
,
, Ronald (lupa kutanya nama akunnya) dan aku sendiri.
Selain minum kopi dan sajian kue, kami disuguhkan dengan kanji rumbi yang dibawa dari rumahnya. Makanan khas itu favorit di bulan Ramadan, berkhasiat sebagai obat penambah energi tubuh.
Tentang steemit menjadi bahasan di sela-sela pembicaraan tentang kehidupan. Misalnya tentang posting memakai aplikasi pihak ketiga #esteem yang kerap dipakai Ronald untuk upload materi. "Dipotong reward kita 10 persen," kata Taufik menerangkan.
Pendatang baru tertarik bertanya lebih lanjut. "Ini bagus juga dipakai untuk mendongkrak reputasi," kataku.
Dia kuajak lebih aktif mengisi konten, kalau bisa sehari satu postingan. Dan sebaiknya, materi diupload malam karena banyak kawan berselancar di steemit pada malam hari. "Ini membuka peluang upvote lebih banyak," kataku membagi pengalaman.
, paling tinggi reputasinya di antara kami, lebih banyak bicara mendongkrak semangat.
yang lama tak membuat postingan terpancing untuk mencoba kembali aktif di sini, juga
.
"Posting foto saja bisa," tanya yang masih kurang paham. Dia mengaku sudah sepuluh hari kosong postingan. Tentu saja bisa, silakan yang penting rutin disertai sedikit keterangan. Selama ini materinya tulisan lumayan panjang.
Dan diam-diam langsung membuat postingan foto kami bersama dengan sedikit pengantar. "Kalau bisa seperti ini, setiap hari aku aktif," katanya sambil tersenyum.
Omongan kami menarik perhatian Wak Coy, kawan yang belum punya akun. Dia mengaku sudah mengenal steemit, dan sudah mendaftar. Tapi sudah sebulan belum dihubungi untuk mendapat password. menyarankan membuat mendaftar lagi dengan email berbeda, bisa juga dibeli dengan sejumlah SBD.
Di luar steemit, kami bicara soal kehidupan di dunia nyata, tentang pertemanan, kebersamaan dan saling mendukung. Juga tentang pengkhianatan, permusuhan dan agenda politik pemerintahan terkini di Aceh.
Kami tidak dalam satu profesi, karena ada jurnalis, pegawai negeri, pengusaha dan pekerja LSM. Ragam pendapat mewarnai diskusi sampai dinihari.
[Warung kopi pilihan kami tadi malam]
Kami bubar hampir pukul 01.00 WIB, kembali ke rumah masing-masing. Kopi dan kanji rumbi pula yang membuatku masih melek untuk menulis ini. Tentang steemians dan kebersamaan. []