“Ada juga yang flag diri sendiri karena tak paham, dipikirnya mewarnai bendera itu bagus,” kata mengisahkan tingkah seorang steemian. Kami lalu tertawa, memenuhi ruangan Moorden Coffee Beurawe, Banda Aceh, Selasa sore lalu.
Perjumpaan kami tak terencana, aku menyebutnya perjumpaan yang unik. Karena kami berbeda pekerjaan, berbeda daerah dan beda umur, tapi disatukan #steemit. Lalu dengan sajian kopi arabika, kami diskusi soal blockchain sampai tingkah kocak steemians dengan ragam lakonnya di media ini.
Kisah awal, aku dihubungi hampir bersamaan oleh ,
dan
yang telah duluan merapat ke lokasi. Aku menyusul ke sana dan bergabung bersama mereka, ada dua lagi rekan
dan
Bahagia berdomisili di Bireuen, Ayi di Lhokseumawe, mereka berdua sedang ada kegiatan kantornya di sini. Hendra, Orcheva dan Syam sama sepertiku, tinggal di Banda Aceh. Tak lama kemudian, datang disusul
. Terakhir kedatangan
dan
yang mengaku baru pulang konser
di Aceh Barat Daya.
[Dok pribadi]
Kami beda kelas di steemit, umumnya #plankton dan lainnya #minnow belum ada #dolphin dan #whale. Tapi tak perbedaan dalam percakapan, semuanya dapat tertawa bebas kala kisah lucu disampaikan. Laiknya meet-up kecil, bahasan melulu soal #steemit.
Tentang teknologi blockchain disampaikan oleh Bahagia dan Ayi, memberi pemahaman bagi kami untuk lebih mengerti sistem yang terbuka di dalamnya. Transparansi dan tidak terpusat dalam satu blok alias tersebar di banyak server. Aku paham sedikit dan selebihnya mendengar untuk mudah mempelajarinya lebih lanjut.
Hal dasar lainnya juga disampaikan mereka. Tentang cara mengajak kawan-kawan bergabung di sini harus hati-hari. Artinya, jangan terlalu memberi harapan kepada yang baru tentang mendapatkan reward yang besar. Sampaikan saja, bahwa dengan vote yang kecil saja, 0.001 misalnya sudah lumayan sebagai permulaan.
“Karena kalau memberi harapan besar, ketika vote yang didapatkan kecil maka kita akan disalahkan,” jelas Bahagia. Jika mau cepat besar dan ada kemudahan finansial, tak salah mengajak kawan untuk berinvestasi membeli steem.
Lalu Risman mengingatkan agar tak lupa mengajak para jurnalis di Banda Aceh yang telah bergabung ke steemit untuk diskusi, mengenal media sosial ini lebih jauh. Ini juga menjadi momen untuk mengajak jurnalis muda lainnya bergabung. Aku mengiyakan untuk melakukannya dalam waktu dekat.
Juga ada cerita mendinginkan suasana perseteruan sesama steemians yang menggelikan. Bahkan mengajak debat para pemilik akun dari luar negeri, sedikit keliru, flag menjadi seperti peluru.
[Dok pribadi]
Pembicaraan tak melulu serius, juga ada kisah lucu ulah steemians. Flag diri sendiri misalnya, flag kawan dekat sampai membaca perilaku para steemians luar negeri. Bahkan ada yang iseng, membalas postingan robot dengan bahasa Aceh. "Katroh kah keuno, ikee tulisan atra dari blog droe kuh kucok (sudah sampai kau kemari, tulisan ini kuambil dari blog sendiri)."
Banyak lagi yang konyol dan lucu dalam pertemuan 3,5 jam itu, dapat menjadi bahan belajar bagi kami yang baru. Dan akan kutuliskan lagi nanti.