Ini seperti tradisi yang berlaku jelang lebaran, memangkas rambut untuk diri. Aku tak tahu darimana muasalnya.
Siang tadi, istri meminta untuk membawa anak bungsu kami ke tukang pangkas. "Lebaran (Idul Fitri) mau dekat, bawa Arkan pangkas rambut," katanya seperti perintah.
Usai salat zuhur, aku bergegas mengajaknya ke Athena Pangkas, kawasan Ulee Kareng, Banda Aceh tempat langganan. Rambutku masih pendek, jadi hanya Arkan yang dipotong rambutnya.
Duduk di kursi, tukang pangkas langsung bertanya modelnya. Kali ini kuberi kebebasan kepada anakku untuk memilih seleranya, kuyakin apapun pilihannya tak akan mengganggu. Sekolah sedang libur, biasanya lembaga pendidikan melarang gaya rambut anak-anak terlalu mencolok seperti rambut beberapa pemain bola.
Lalu Arkan menunjuk sebuah gambar di atas cermin, dengan model tipis samping dan di tengahnya sedikit panjang belah samping dengan tanda garis yang dibuat memakai cukuran. Aku mengangguk setuju.
Mulailah tukang pangkas bekerja. Beberapa kali aku memintanya tak bergerak, ketika Arkan tak tahan menggaruk gatal karena rambut yang mengenai mukanya.
Lebih lima belas menit, proses pangkas selesai, jadilah rambutnya persis seperti yang disukainya. "Keren ayah," katanya bangga.
Pikiranku melenting pada masa kecil, saat memangkas rambut jelang lebaran. Ayahku selalu membawa ke tempat pangkas tak perduli masih pendek. "Harus pangkas, mau lebaran," tergiang kata ayah kala suatu ketika aku protes.
Aku tak menemukan alasan kenapa, sampai saat ini. Kebiasaan itu berlaku untuk anak-anak, bahkan sebagian pemuda dan orangtua umumnya di gampong-gampong seluruh Aceh.
Beberapa pemerhati budaya sempat kutanya dan menggeleng. Kuyakini tradisi itu muncul belakangan, bukan warisan masa lalu. Karena tak kutemukan satu pun referensi tentangnya, bahkan pria Aceh dulu lebih senang membiarkan rambutnya tergerai sebahu, terkecuali yang berambut keriting.
Ketua Majelis Adat Aceh, Badruzzaman pernah menyampaikan kepadaku tentang kebiasaan warga Aceh untuk berbenah menyambut lebaran. Misalnya merapikan rumah-rumah untuk menyambut tamu, membersikan fasilitas umum dengan bergotong royong. Juga merapikan diri termasuk membeli baju baru untuk keluarga. Mungkin memangkas rambut termasuk bagian merapikan diri.
Begitulah kisah memangkas rambut jelang lebaran. Setiap generasi dapat menciptakan sejarahnya sendiri. []