Hari ini, 19 tahun lalu 3 Mei 1999, tragedi kemanusiaan terjadi di Aceh saat konflik masih berlangsung. Tragedi Simpang Kertas Kraft Aceh (KKA) itu masih lekat dalam ingatan Ali Raban, reporter televisi yang terjebak di tengah tembakan aparat.
[bersama ali raban, saksi peristiwa Simpang KKA]
Aku menulis pengalaman Ali Raban, dipengaruhi statusnya di media sosial tetangga, hari ini.
”Masih segar dalam ingatan saya saat merekam tragedi simpang KKA pada 3 Mei 1999, atau 19 tahun yang lalu. Masih terasa desingan peluru, masih terdengar jeritan kematian, masih terasa getaran ketakutan, masih terbayang dan selalu terbayang tragedi itu... Alfatihah untuk syuhada Simpang KKA.”
Ali Raban adalah sahabatku, sedikit lebih tua dan sarat pengalaman di dunia jurnalis. Saat tsunami kami sering meliput bersama. Sejak 2007 kami tetanggaan, rumahnya persis di depan rumahku. Begitulah kedekatan ku dengan Reporter Metro TV itu. Dia memiliki akun steemit tapi belum pernah mengisi konten.
Tentang pengalaman meliput saat tragedi Simpang KKA telah diceritakan tuntas dan berkali-kali. Dia mengaku belum bisa melupakan kejadian yang nyaris mencabut nyawanya.
Tragedi itu berawal Sabtu 1 Mei 1999, Ali Raban masih masih kameramen RCTI. Seperti biasa, saban pagi dia berangkat dari rumah ke Kota Lhokseumawe berkumpul bersama kawan jurnalis, di Warung Kopi Atra, sambil mencari informasi liputan.
Sedang asyik ngopi, seorang supir bus yang telah tahu lokasi mangkal jurnalis mengabarkan di Kantor Kecamatan Dewantara sedang ada aksi demontrasi. Demo dipicu oleh kekesalan warga karena TNI menahan beberapa keluarga mereka, setelah adanya kabar ada anggota TNI dari Kesatuan Den Rudal 001/Pulo Rungkom hilang pada 30 April 1999.
Ali Raban dan rekannya bergerak ke lokasi menempuh perjalanan sekitar 23 kilometer. Warga masih demo di kantor Kecamatan Dewantara, menuntut agar TNI tak masuk kampung melakukan operasi massif, serta meminta yang warga yang ditahan dapat bebas. Camat Dewantara, M Amin berjanji akan meminta aparat supaya memenuhi tuntutan warga. Aksi bubar sore harinya.
Keesokan harinya, warga yang ditahan belum bebas. Aksi berlangsung kembali, mereka yang marah mulai melempar kantor camat setempat. Dua truk reo TNI datang melepaskan tembakan ke udara, massa bubar.
Senin 3 Mei 1999, aksi masih terus berlangsung. Ali Raban bersama rekannya Umar HN dan Reporter RCTI dari Jakarta Imam Wahyudi (Sekarang Anggota Dewan Pers) kembali berangkat ke lokasi, setelah ada kabar bahwa ribuan massa telah bekumpul di Simpang KKA untuk menuju markas Den Rudal Pulo Rungkom.
Mereka tiba di dekat lokasi, warga memblokir jalan di sekitar simpang PT Pupuk Iskandar Muda. Mobil parkir di tempat aman dan bergabung jalan kaki melakukan tugas jurnalistik di tengah kerumunan. Sambil berjalan, Ali melihat massa berlari ke Simpang KKA, sebagian membawa parang, kayu dan senjata tajam lainnya.
Ali sempat bertanya kepada seorang warga, apa gerangan yang akan mereka lakukan. Jawabannya, mereka mau ke Den Rudal, mau membebaskan warga yang ditahan di sana.
Di Simpang KKA, ribuan massa mengelilingi empat truk TNI. Warga kampung termasuk perempuan dan anak-anak berteriak Merdeka… Merdeka. Terlihat di sana ada Camat Dewantara, pin logo camat di bajunya sudah copot dengan bekas koyakan.
Tengah hari, massa semakin ramai. Ali melihat ada tokoh warga yang sedang berbicara dengan TNI di dekat truk reo yang parkir berjejar. Ali merasa haus dan sialnya air lupa dibawa, sementara warung-warung sekitar tutup. Dia melihat seorang anak, usia sekitar 10 tahun memegang botol air mineral, dimintanya sedikit untuk melepas dahaga.
Truk TNI masih berhadapan dengan massa, ketika pasukan bantuan datang makin ramai ke lokasi. Sebagian warga duduk di pinggir jalan dan selasar warung-warung. Tiba-tiba satu sepeda motor datang dari arah Pulo Rungkom, massa berdiri lalu terdengar bunyi senjata, warga tiarap. Setelah tenang, warga berdiri lagi, saat itulah rentetan senjata menyalak terus menerus dari TNI yang berada di pingir jalan.
Massa tiarap dan berhamburan menghindari peluru. Ali merapatkan diri di trotoal jalan. Kamera di atas kepalanya dihidupkan untuk merekam. Dia melihat banyak massa timbang, jerit dan teriakan terdengar di mana-mana memenuhi telinganya. Selang lima menit kemudian, bunyi senjata berhenti. Massa berlari ke tempat aman.
Ali masih tiarap tak jauh dengan Imam Wahyudi. Seorang TNI membentak. “lni yang kalian inginkan, anjing kalian semuanya.” Mereka terdiam, saat seorang Komandan TNI memanggil bawahannya. “Hei, tinggalkan mereka.” Tak lama kemudian aparat mereka pergi dari lokasi kembali ke markasnya.
Mayat bergelimpangan sebagian lagi terluka tembak. Ali melihat anak bersimbah darah tak jauh dari tempatnya, dia gemetaran merinding dan berlinang air mata mengetahui anak itulah yang memberinya air tadi. “Sampai kini, itu tak pernah saya lupakan,” kisahnya.
Warga yang selamat mengurus yang luka dan meninggal, tak lama kemudian beberapa mobil dan ambulan datang membawa korban ke rumah sakit dan puskesmas terdekat. Ali, Imam dan Umar kemudian meninggalkan lokasi kembali ke Lhokseumawe.
Setiba di rumah, Ali menangis melihat anaknya Muammar yang masih berumur 25 hari, dia menangis membayangkan kejadian hampir merengut nyawanya. Kini, Muammar sudah 19 tahun dan kuliah di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Pengalaman ini juga dituliskannya dalam buku yang kami garap bersama kawan-kawan lainnya: Rindu tanpa Perang.
[Dokumen pribadi]
Desakan berbagai pihak, Pemerintah Indonesia pada tahun 2000 melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut dengan membentuk Komisi Independen Pengusutan Tindak Kekerasan di Aceh sesuai Keputusan Presiden Nomor 88/1999. Dalam laporannya, komisi melaporkan sebanyak 39 warga meninggal, 156 mengalami luka tembak dan 10 dinyatakan hilang. Laporan Koalisi NGO HAM Aceh menyebutkan jumlah yang meninggal berbeda: 46 orang. sumber
Perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) disepakati 15 Agustus 2005, konflik Aceh berakhir meninggalkan kisah-kisah pilu. Tragedi Simpang KKA rutin diperingati setelah damai di lokasi kejadian, dengan renungan dan doa bersama oleh masyarakat dan LSM.
[Peringatan 19 tahun tragedi Simpang KKA | Foto kiriman Komisioner KKR Aceh, Masthur Yahya]
Semoga perang pergi jauh dari Nanggroe ini. Doa kami untuk para korban. []