Ada orang yang tak ingin gagal. Ada pula yang takut gagal. Kedua orang sama seperti orang haus yang tak mau minum. Kegagalan itu seperti ruang tunggu atau terminal. Ketika kita ingin bepergian dengan pesawat udara atau kereta api. Maka kita wajib berada di terminal atau ruang tunggu.
Kegagalan adalah ruang demi menuju tujuan. Tujuan itu adalah sukses. Maka untuk sukses kegagalan adalah hal wajib. Tentu tak ada orang yang tak pernah gagal.
Nah, bila begitu kenapa harus takut gagal? Mengapa tak ingin gagal? Namun anda dilarang merencanakan kegagalan. Merencanakan gagal dengan melakukan sesuatu dengan setengah hati. Keterpaksaan atau asal asalan. Berusahalah sekemampuan anda. Setelah bila hasil tidak seperti yang diharapkan. Maka itulah kegagalan.
Tentu saja setiap usaha anda perlu memberi ruang bagi kegagalan. Sehingga anda yidak kehilangam seangat buat memulai. Atau melanjutkan usaha dengan belajar apa yang harus di perbaiki. Belajar dengan mendiagnosa apa penyebab anda gagal. Temukan dan jangan ulang kesalahan yang sama. Cari metoda lain yang lebih efektif.
Bunga diatas pasti sudah melalui upaya tertentu. Yang biasanya hidup liar di hutan. Diatas tanah yang disinari matahari. Kini hidup di kotak. Dan tidak ada dinar matahari seperti di alam. Begitu perjuangan untuk sukses. Butuh modifikasi dan penyesuasaian diri sesuai dengan tujuan dan cita cita.
Bunga butuh hidup. Sehingga ianya menyesuaikan diri dengab tempat dimana dia berada. Kita ketika mau berjuang untuk sukses hal yang sama harus terjadi. Anda takkan jadi penulis bila tidak belajar menulis dan terus menulis. Kesalahan hanya proses. Gagal hanya proses. Untuk mencapai tujuan semua butuh proses.
Mereka yang tidak pernah ingin berjuang. Kemudian hidup mengalir saja. Tidak ada impian. Tidak ada cita cita. Manusia model ini adalah pemilik kenyamanan mengalah. Berbagai alasanpun mereka rekayasa. Takdir dan nasib menjadi kambing hitam.
Hidup dengan segala keterbatasan. Bagai kerakap hidup di batu. Mereka bahkan telah menghibah diri untuk suatu yang menyakitkan diri. Sama sekali menutup diri untuk mengejar impiannya. Hidupnya dicukupkan apa adanya. Tidak ada upaya upaya khusus selain berusaha mempertahankan hidup.
Mereka seperti supir yang terjebak macet. Hanya fokus bagaimana melepaskan diri. Tidak berpikir bagaimana esoknya mencari cara
agar jangan berulang terjebak. Mendorong pengambil kebijakan untuk memperbaiki manajemen jalan raya.
Bila anda mengalami kegagalan demi kegagalan. Pertanyaan sudah anda belajar dari kegagalan. Masihkah anda menggunakan pola pola yang berbuah kegagalan. Sudahkan anda menempuh langkah langkah berbeda dengan langkah sebelumnya. Sebodoh bodohnya keledai, ia tidak pernah jatuh kelubang yang sama saat melalui lubang yang sama.