
Sudah cukup lama saya tidak pernah lagi diminta menjadi juri lomba menulis. Saya pun tidak ingat kapan terakhir menjadi juri lomba, saking lamanya. Padahal dulu ketika masih aktif bekerja di media dan rutin menulis, saya sempat beberapa kali (tidak sering juga sih) diminta menjadi juri. Namun, belakangan hampir tidak pernah lagi diajak jadi juri.
Maka, ketika ada tawaran menjadi juru nilai tulisan lomba, langsung saya iyakan saja. Di masa pendemi ini, terutama setelah sembuh dari sakit, rasanya pekerjaan apapun kita terima, kecuali yang bertentangan dengan nurani dan melanggar hukum.
Bagaimana ceritanya saya menjadi juri lomba? Suatu hari, kawan saya Muhajir Juli, CEO AcehTrend menelepon. Tapi telpon tersebut tidak sempat saya angkat. Saya tidak ingat kenapa tidak saya angkat, mungkin HP sedang saya charge baterai atau saya lagi tidur. Yang jelas telepon tersebut tidak terangkat. Beberapa jam kemudian saya telpon balik. Setelah mengutarakan alasan HP tidak terangkat, saya tanya ada apa?
Lalu, Muhajir cerita bahwa KNPI Banda Aceh menggelar lomba menulis opini dengan tema "Aku dan Banda Aceh", dan saya ditawarkan apakah bersedia menjadi salah satu jurinya. Langsung saya iyakan sembari menanyakan berapa hadiah lomba plus honor juri. Kalau hadiahnya gede kan berarti mendingan ikut lomba daripada menjadi juri. Tapi, ikut lomba belum pasti menang, kalau jadi juri ya sudah jelas honornya.
Sebenarnya saya sudah kangen ikut lomba menulis, terutama lomba blog SEO. Sejak menjadi pemenang ketiga dalam lomba SEO yang digelar sebuah brand otomotif, saya tidak pernah lagi mengikuti lomba. Sempat berniat ikut beberapa lomba, tapi baru sadar ketika deadline lomba berakhir. Alhasil, tidak jadi ikut lomba.
Nah, sebagai juri lomba menulis KNPI, saya harus menilai tulisan dari tiga kategori: umum, pemuda, dan pelajar. Ada tiga topik yang diajukan panitia sebagai tema tulisan. Yaitu, topik ekonomi kreatif; pelayanan publik; dan penataan kota. Ada banyak sekali ide dan gagasan yang muncul, dan menjadi masukan berharga untuk pemimpin kota.
Intinya, ada banyak sekali tulisan bagus dari para peserta, dan ini tentu saja memusingkan para dewan juri. Ada peserta yang memiliki gagasan yang sangat bagus tapi dikemas secara buruk. Ada tulisan yang digarap dengan bagus tapi kering gagasan. Ada pula tulisan yang dibuat dengan buruk sekaligus tidak memiliki poin gagasan yang jelas.
Semua tulisan itu harus dibaca, ditimbang dan dinilai sebaik mungkin. Para dewan juri (Saya, Muhajir Juli dan Hasnanda Putra) memiliki perkakas dan rumus untuk menilai sebuah tulisan. Ada tiga aspek yang dinilai, yaitu kesesuaian tulisan dengan tema lomba, orisinalitas gagasan dan penulisan.
Dengan berpijak pada ketiga aspek tersebut, dewan juri menilai tulisan peserta dengan sebaik mungkin. Masing-masing juri memberikan nilai terbaik yang bisa diberikan. Dan, kini hasilnya sudah diserahkan kepada panitia. Merekalah nanti yang akan mengumumkan siapa saja pemenangnya.
Saya, yang baru sembuh dari sakit, tentu saja senang sudah diajak menjadi juri.