Seperti biasa Aku memilih Masjid At-Taqwa Muhammadiyah sebagai tempat menunaikan salat Jumat. Pilihan masjid ini murni bukan pilihan ideologis (karena Aku bukan warga Muhammadiyah-dan juga NU), melainkan karena dekat dengan tempat tinggal dan jamaahnya tidak begitu ramai.
Sebenarnya ada alasan lain kenapa Aku lebih memilih salat Jumat di masjid ini. Aku tak akan memberitahu alasan ini pada sembarang orang, bukan apa-apa, Aku hanya takut nasib masjid ini nanti serupa dengan surau kecil di komplek kantor Dolog di bilangan Daud Beureueh: selalu penuh tiap waktu terawih. Tiap ramadhan, lokasi salat tarawih Dolog ini jadi favorit anak muda kota (atau yang tinggal di kota).
Di masjid At-Taqwa ini, Aku selalu bertemu dengan teman yang jadi jamaah tetap. Secara umum, wajah orang yang salat Jumat di sini memang tak jauh berubah: orangnya itu-itu saja. Ada yang berwajah Turki, ada Aceh tulen, dan ada yang berwajah indo. Mereka kompak menjadi pengisi shaf tetap di masjid yang lantai duanya disulap jadi lokasi shalat.
Aku tak akan mengulas soal isi khutbah (padahal jadi alibi kuat untuk menunjukkan bahwa aku benar-benar pergi ke masjid), yang kontennya sangat berisi. Sebab, yang hendak Aku ceritakan ini bukan kejadian di lokasi masjid, melainkan setelah aku keluar dari lokasi masjid.
Begitu keluar dari pintu masjid, rintik hujan mulai terasa menimpa wajahku dan di kaca spidometer sepeda motor yang aku kendarai. Aku mengira bakal turun hujan lebat. Karena butuh koneksi internet, Aku tak langsung pulang ke rumah melainkan memilih mampir di ruko Bereh, milik temanku yang juga seorang Steemian (dia mengelola akun ). Sejak dua hari yang lalu, kuota internet-ku habis dan belum sempat aku isi lagi.
Baru lima menit aku berselancar ria, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Aku menggeser sepeda motor lebih ke dalam agar tidak terkena tempias, sehingga aku lebih nyaman bermain internet. Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang membuatku risau: pertarungan yang sangat tidak seimbang. Apa yang aku lihat itu lebih mirip penindasan dan penghukuman yang sangat kejam.
Bayangkan saja, air hujan yang turun melewati sebuah corong (bahasa Aceh: nuran) dengan kejam menginjak-injak batang cabai china. Hantaman yang terus menerus itu membuat cabai yang sudah berbuah itu menjadi tak berdaya. Air hujan yang membentuk lingkaran bergigi itu dengan sadisnya menghancurkan dahan cabai yang sebenarnya tumbuh kokoh itu. Tapi, pukulan terus menerus membuatnya lemah. Aku tak sempat mengintip berapa banyak buah cabai tersungkur tak berdaya ke tanah basah.