Maaf, jika kuberitahukan pada kalian bahwa aku terpaksa mencantumkan disclaimer untuk tulisan ini: boleh dibaca untuk semua umur tapi tidak boleh ngeres.
Setelah tujuh tahun (dan kuyakin ini bukan rentang waktu yang lama untuk anda yang memendam rindu), aku kembali berjumpa dengannya di sebuah ruangan yang semua jendelanya dibiarkan terbuka. Perempuan yang kukenal lewat dunia maya hampir sembilan tahun silam itu duduk memunggungi tembok, sementara di depannya anak-anak muda menatapnya dengan pasrah. Dia memakai blues putih dengan belahannya sedikit rendah, dipadu batik kasual dengan motif yang tak bisa kutebak.
Aku sempat mengintip sepatu kasual yang dikenakannya, dan lagi-lagi warnanya serupa dengan warna blues yang sudah kusebut berbelahan rendah itu. Bagi kalian yang ingin tahu apa merek sepatu yang dikenakannya, kalian di jalan yang benar saat memutuskan membaca tulisan ini. Kalau kalian mencari tulisan "Loceo Eport" di menu pencarian situs-situs jualan online, model sepatunya pasti bisa kalian temukan.
Kalian yang pertama kali berjumpa dengannya langsung punya kesan bahwa dia seorang perempuan energik. Dia sanggup berceloteh berjam-jam tanpa kehabisan bahan. Sialnya, kalian tidak akan bosan melihatnya karena dia lebih sering tampil sensual. Namun, bukan itu yang membuatnya layak menjadi teman ngobrol yang asik. Kalian akan mendapatkan pencerahan dan kalian akan termotivasi dengan suntikan semangat yang ditularkannya.
Aku ingat, dia menjemputku di hari ketika aku jeda dari ruang kuliah (kata ini mungkin saja tidak pas) sebuah pelatihan tentang jurnalistik di Jakarta. Awalnya dia hendak mengajakku ke tempat karoeke, dan dia menyerah ketika kubilang aku tidak bisa nyanyi dan juga minum-minum. Akhirnya, kami memilih nongkrong di kedai Seven Eleven yang ketika itu sedang jaya-jayanya. Yang aku ingat, saat itu cuma memesan minuman kalon berkarbonasi, sementara dia sendiri memesan kopi. Satu porsi kentang goreng dihidangkan ke meja kami, dan segera ludes saat hujan mulai membasahi aspal kota Jakarta.
Sekali pun aku mengenalnya sejak sembilan tahun yang lalu, baru malam ini aku tahu kalau anaknya memanggilnya dengan sebutan mami vagina. Hal ihwal sebutan itu pun bukan berawal dari diskusi berat yang membutuhkan perhatian ekstra. Hanya karena anaknya merasa bahwa perbedaan antara mereka cuma pada urusan kelamin. "Yang membuat aku beda sama mami kan cuma karena mama bervagina, sementara aku berpenis," begitu kata anaknya, sebuah kalimat sebagus yang kuingat. []