Musim panas 2010, aku dan beberapa teman berkeliling ke beberapa negara di Eropa menggunakan mobil. Dengan jatah visa Schengen selama 15 hari, kami sebenarnya bebas keluar-masuk 28 negara di benua biru itu.
Tapi, aku dan temanku memilih Belanda, Belgia, Perancis, Swiss, Austria, Ceko, Jerman, dan tentu saja Denmark sebagai destinasi awal. Sedikitnya, 11 kota besar di Eropa kami singgahi, mulai dari Hamburg, Amsterdam, Brussels, Paris, Jenewa, Zurich, Bern, Wina, Praha, Munchen, dan Berlin. Kami biasanya memilih menginap di perbatasan kota terdekat.
Jangan kalian bayangkan bahwa kami menginap di hotel, hostel atau rumah singgah di tempat-tempat yang kami datangi itu. Lebih sering kali menginap di lokasi parkir. Kami tidak sendirian menjalani hal begini. Sopir truk atau orang Eropa yang bepergian bersama bersama keluarganya juga melakukan hal serupa. Di lokasi parkir ini, kita cukup menggelar terpal lalu tidur nyenyak dengan sebuah selimut tebal. Soalnya, luas mobil sedan VW dengan dua baris kursi tidak memungkinkan semua kami untuk tidur di dalam mobil.
Satu-satunya tempat nginap yang lebih 'manusiawi' dan membuat kami benar-benar merasakan apa arti nyenyak dalam makna yang sebenarnya hanyalah di Amsterdam. Di ibukota negara yang dulu menjajah kita ini, kami tidur di sebuah flat milik orang Aceh. Kebetulan pemiliknya sudah kembali ke Aceh, dan rumah itu dijaga oleh seorang anak muda Aceh yang sedang menempuh kuliah di Belanda.
Atas alasan ini, aku akan menceritakan sedikit pengalaman di Belanda, setelah secara tak sengaja membuka-buka album lama berisi foto-foto di Eropa. Lagi pula, di Amsterdam pula kami sempat singgah lebih lama dibanding beberapa negara lain yang sudah aku sebutkan di atas.
Kami tiba di Amsterdam menjelang sore hari, dan langsung disambut hujan yang sangat deras. Gara-gara mencari sebuah alamat flat, kami sempat memutar-mutar (dan juga tersasar) di sejumlah sudut kota, dan sialnya alamat yang kami cari itu tak juga bisa kami temukan. Dan, gara-gara seorang kenalan teman kami di sana memberi alamat yang tidak lengkap, kami terpaksa salah parkir. Kami sudah menyerah, dan bahkan tidak menghidupkan lagi navigator khusus yang dibeli oleh teman kami sewaktu di Denmark, saking lelahnya mencari sebuah alamat kala hujan semakin deras. Namun, tak lama kemudian, teman kami di Belanda itu menjemput kami. Dia menggunakan sepeda yang menyerupai ontel di tempat kita.
Kota Amsterdam tak jauh beda dengan Singapura, Ho Chi Minh, Siem Reap atau kota-kota besar lainnya di dunia. Berdenyut dan hidup selama 24 jam. Tanda kehidupan itu mulai tampak ketika sore akan digantikan oleh malam. Orang-orang dari beragam ras tumpah ruah ke kawasan Dam Square. Di kawasan ini, kami sempat nongkrong dan memandang suasana kota. Aku bahkan sempat menonton sebuah pertunjukan 'sulap' yang di tempat kita berupa penampilan penjual obat.
Kami banyak menghabiskan waktu dengan berkeliling di jalan ’Oudezijds Achterburgwal di kawasan de Wallen, lokasi yang sangat familiar di kalangan turis. Sejak sore hari, kawasan ini mulai menggeliat seperti yang pernah aku lihat di Pub Street di kota Siem Reap, Cambodia. Tak sulit menjangkau tempat ini, karena de Wallen berada tepat di pusat kota, dan sepertinya dikhususkan untuk orang dewasa. Banyak orang menyebut kalau kawasan ini adalah surga dunia, terkenal karena esek-eseknya.
Tak usah heran kalau kalian mencium aroma ganja di kawasan ini. Belanda adalah salah satu negara yang sudah melegalkan ganja. Di kafe-kafe di kawasan de Wallen ini banyak menjual ganja, dan kita bisa menghisap ganja dengan bebas di sini. Teman kami, dia lama tinggal di Denmark, membeli ganja yang sudah dilinting menyerupai rokok.
"Sibak rukok nyoe dipubloe 1 Euro," katanya. Dia membeli rokok ganja itu dua batang. Dia menghisap sebatang sewaktu kami nongkrong di lapangan tengah kota, dan satu batang lagi rencananya akan diisap seusai menikmati kebab. Sialnya, ketika kami mengunjungi sebuah kafe milik orang Turki dan memilih duduk di deretan meja yang diatur di luar kafe, pemilik kafe itu melarang teman kami menghisap ganja itu.
"Sorry, tidak boleh menghisap ganja di sini," katanya dalam bahasa Inggris yang patah-patah. Dia menunjuk pada label halal yang digantung di pintu masuk kafe. Teman kami pun terpaksa menyingkir dari kafe Turki itu untuk menghabiskan sisa rokok ganja yang sudah disulutnya.
Meski pun ganja dilegalkan, namun penjualan ganja diatur dengan ketat. Setiap cafe hanya boleh menyimpan 500 gram ganja, dan masing-masing cafe boleh menjual ganja 5 gram sehari kepada setiap pembeli. Seseorang yang menyimpan lebih 5 gram ganja di kantongnya, dia bisa dihukum atau kena straft dalam hukum Belanda. Begitu pula untuk cafe yang menyimpan lebih 500 gram, bisa-bisa cafe-nya ditutup.
Tak hanya ganja, pelacuran juga dilegalkan di Belanda. Dalam hukum Belanda, para perempuan yang menjual tubuhnya itu dipandang sama dengan seorang penjual/pedagang. Mereka diharuskan terdaftar di Kamer van Koophandel, sebuah departemen perdagangan. Dengan terdaftar di sini, mereka menjadi bebas "berjualan" dan karenanya mereka juga harus membayar pajak. Pelacur di Belanda itu membayar pajak, loh!
Untuk melihat bagaimana mereka 'berjualan', kalian bisa berkeliling di kawasan Oudezijds Achterburg atau lebih dikenal dengan Red Light District (daerah lampu merah). Di sini kalian akan berjumpa dengan banyak turis dari mancanegara, dan jangan terkejut jika di sepanjang jalan itu kalian lebih sering berpapasan dengan orang berwajah oriental. Sama seperti kami, mereka pun sepertinya penasaran dengan para wanita yang berdiri di dalam kaca. Cewek cantik dengan lingerie yang sangat seksi dipajang dalam kaca, dan sebagian dari mereka akan melongo ke luar jika kita tertarik untuk 'menikmati' mereka.
Saat itu, harga untuk sekali kencan atau short time dengan wanita dalam kaca itu, hanya 50 euro (atau setara dengan Rp800 ribu). Harga itu sudah fixed dan tidak bisa ditawar. Iseng-iseng, aku pernah mencoba menawar harga. "Can we get a discount?" Aku bertanya dengan mengandalkan bahasa Inggris rakitan. Di luar dugaan, perempuan yang aku duga dari Italia itu menghardik. "Poor man. Go to hell," katanya sembari kembali masuk ke dalam kaca yang diterangi lampu merah itu. Aku hanya bisa melongo. Teman-temanku tertawa kegirangan.
Kondisi yang kami alami juga menimpa seorang pemuda berwajah oriental. Dia mencoba menawar seorang wanita berwajah Asia dengan harga murah, dan dia pun diusir dengan kasar. Di kawasan itu, masing-masing blok memajang wanita dari ras berbeda. Ada blok yang khusus memamerkan wanita kulit hitam, oriental, bule, atau berwajah latin. Semua model wanita tersedia di sini, dan para pengunjung bisa memilih mana yang disukainya.
Laiknya wilayah esek-esek, baunya pun menebarkan aroma mesum. Aneka jenis bau bisa kita cium di sana. Berada di sana persis seperti kita sedang mengunjungi kawasan yang berjejer toko parfum. Baunya saja sudah memancing birahi. "Ngon bei wangi mantong ka dibeudoh Mat Akob teuh," kata seorang temanku.
Berpose di dekat Tembok Berlin
Selama di Amsterdam, aku dua kali mengelilingi kawasan ini. Sekali karena penasaran, dan sekali lagi hanya menemani beberapa teman yang belum sempat ke sana. Kami pulang dari kawasan esek-esek ini ketika malam sangat larut, dan bau wangi itu masih terasa di hidung kami ketika berada di flat. Aku tidak ingat, senyenyak apa aku tidur malam itu. []