Gerakan 2 M? Gerakan 2 Miliar? Bukan! Kita berbicara bukan tentang uang, tetapi gerakan masif yang mengajak masyarakat Indonesia untuk gemar membaca dan menulis.
Betapa kita tidak merasa miris melihat kualitas sumber daya manusia Indonesia saat ini. Seperti dilansir oleh UNESCO pada tahun 2012, indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1000 penduduk hanya satu orang yang tertarik membaca.
Menurut indeks pembangunan pendidikan UNESCO ini, Indonesia berada di urutan 69 dari 127 negara. Sementara data UNDP menyebutkan angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen. (Republika, 27 Februari 2015). Padahal, indikator suatu negara dikategorikan maju atau tidaknya bisa dilihat dari budaya membacanya. Ironis, tetapi memang demikian kenyataannya saat ini.
Di era globalisasi sekarang ini kemajuan teknologi berkembang secara pesat. Kemajuan ini menuntut SDM yang gemar membaca dan menulis.
Namun, sampai saat ini budaya membaca dan menulis belum sepenuhnya berkembang di kalangan masyarakat Indonesia. Padahal, tidak dapat dipungkiri jika bangsa ini mau maju pesat, budaya membaca dan menulis mutlak diperlukan.
Bagaimana halnya dengan menulis? Bisa kita prediksi pasti Indonesia berada di urutan yang tidak menyenangkan. “Jangankan menulis, membaca saja malas,” demikian kata orang-orang. Namun, hal yang menarik ternyata ketika seseorang rajin menulis, maka secara otomatis akan gemar membaca. Kenapa? Karena membaca adalah gudangnya ilmu. Fakta membuktikan semua penulis tidak akan terlepas dari budaya membaca.
Saya bermimpi kelak di Indonesia akan bermunculan generasi penulis multitalenta yang gemar membaca dan berprestasi di kancah literasi internasional.
Untuk itu, gerakan membaca dan menulis mutlak diperlukan agar menjadi kebiasaan yang berujung menjadi budaya masyarakat Indonesia. Secara pribadi saya merasa bersyukur, seperti adanya Gerakan Indonesia Menulis yang digagas oleh Bu dan bermunculannya komunitas-komunitas penulis, seperti KSI, Komunitas Penulis Kreatif (KPKers), FLP, FAMe, dsb.
Apabila aktivitas membaca dan menulis sudah mendarah daging dalam diri seseorang, maka dapat dikatakan bahwa aktivitas atau sikap tersebut telah menjadi kebiasaan.
Tentunya, terbentuknya kebiasaan membaca dan menulis ini tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, tetapi melalui proses yang memakan waktu relatif lama dan memerlukan ketekunan serta latihan yang berkesinambungan.
Dari kebiasaan, maka lahirlah kemampuan membaca, seperti kecepatan membaca dan memahami isi bacaaan. Jika fase kemampuan membaca ini telah tercapai, maka kemampuan menulis akan hadir dengan sendirinya. Bukan hal yang mustahil jika kebiasaan menulis di kalangan masyarakat Indonesia tumbuh dengan baik, maka tingkat kecerdasan masyakarat Indonesia akan semakin meningkat.
Suatu pekerjaan yang tidaklah mudah. Namun, sedikitnya gerakan 2 M ini menjadi secercah asa menuju SDM Indonesia lebih baik. Bukankah pepatah bijak mengatakan, “Perjalanan ribuan kilometer dimulai dari langkah pertama?” ()