Macet!! Di mana-mana macet. Di sini macet, di sana macet. Haduh …. Salah siapa ini? Serombongan rakyat pun mulai kesal kemudian berkumpul dan melakukan demo ke istana negeri dagelan. Mereka protes dan menyalahkan presiden karena gak becus membangun negara.
Dengan langkah gontai dan tanpa ekspresi bersalah, sang presiden pun mendatangi rakyat yang sedang berdemo, kemudian berkata tanpa panjang lebar, “Lho! Jangan salahin saya. Saya kan sudah memberi mandat kepala daerah untuk masalah ini. Tanya saja mereka. Jelas toh!” Dengan langkah gontai pula presiden kembali masuk ke istana negara.
Tak puas mendengar penjelasan tersebut, rombongan pendemo pun mendatangi kantor kepala daerah dengan berapi-api. Kepala daerah pun menemui pendemo lantas berkata,” Ini bukan salah saya. Selaku kepala daerah masalah kemacetan sudah dilimpahkan ke kepala dinas pekerjaan umum dan tata ruang. Mereka kan yang bertanggung jawab mengatur pembangunan jalan ini dan itu.”
Mendengar penjelasan dari kepala daerah tersebut, para pendemo pun mengalihkan langkahnya menuju kantor dinas pekerjaan umum dan tata ruang. Terik matahari tak membuat mereka untuk menghentikan demo. Kepala dinas pun mendatangi para pendemo kemudian berkata, “Hmm … masalah macet ya? Ini bukan salah saya bapak-bapak, ibu-ibu. Saya sudah membuat master plan dan membangun jalan sesuai dengan juklak yang ada. Percuma kan membangun jalan kalau mobil dan motornya diproduksi terus-terusan. Jadi, ini salahnya dinas perindustrian dan perdagangan dong.“
Panas matahari semakin menjadi-jadi, kulit pendemo mulai kepanasan sehingga membuat emosi pendemo semakin bergejolak. Mereka mendatangi kantor dinas perindustrian dan perdagangan. Tak sabar para pendemo kemudian berteriak ke kepala dinas. “Woi! Bapak ini biang kerok kemacetan! Sudah tahu jalan terbatas, kok malah produksi kendaraan terus-terusan. Ayo tanggung jawab!” Teriak pendemo.
Kepala dinas pun mendatangi pendemo tanpa ekspresi emosi, “Sabar-sabar ya, dengar dulu penjelasan dari saya supaya bapak dan ibu paham. Ini bukan salah saya, kan kita produksi kendaraan seiring meningkatnya jumlah penduduk setiap tahunnya. Jadi, ini ya salahnya dinas sosial dong, kenapa mereka gagal menjalankan program KB.”
Benar juga, logis juga ya alasannya, gumam para pendemo. Akhirnya dengan emosi tak tertahankan mereka mendatangi kantor dinas sosial sembari meneriakkan yel-yel diikuti umpatan pendemo lainnya. “Turun! Turun! Turun!”
Tak terima diumpat kepala dinas sosial pun segera menghampiri para pendemo. “Bapak-bapak, ibu-ibu yang baik. Mohon dengarkan penjelasan saya dulu, tahan emosinya sebentar. Program KB tidak berhasil bukan salah saya dong, ini salahnya bapak dan ibu kenapa terus-terusan masih bereproduksi aja. Jelas kan?”
Nah lho, jadi macet salah siapa ya? Warga negeri dagelan pun menjadi bingung ….
Pesan:
Bukan saatnya lagi kita saling menyalahkan. Yuk! Bersama membangun negeri. Sekecil apa pun yang kita bisa.