Sore itu seorang teman saya mengunjungi sebuah warung kopi, dimana warung itu merupakan tempat biasa bagi kami berkumpul sejenak setelah pulang kerja. Terdiri dari berbagai kalangan dengan beragam profesi memenuhi warung kopi itu. Termasuk penulis, wartawan, bloger, pegawai negeri, pegawai swasta bahkan petani sekalipun. Sebagaimana budaya yang kerap melingkupi ruang lingkup daerah kami Aceh, warung kopi sudah menjadi terminal bagi sekumpulan manusia pecandu kopi, namun juga tidak tertinggal bagi mereka yang memanfaatkan warung kopi sebagai ruang berinteraksi sosial. Barangkali teman stemians sudah paham bagaimana kondisi warung kopi di Aceh.
Teman saya itu adalah seorang lelaki berkulit putih tampan. Sehari-hari bekerja di sebuah kantor pemerintahan. Kebetulan dia juga penggemar berat komunitas media sosial. Kini kehadiran Steemit membuatnya bagai dibius hembusan bayu di senja hari, saya tidak tahu kenapa dia begitu semangat di Steemit.
Dia duduk di depan kami. Di sudut paling paling depan dua orang teman lainnya yang sama-sama sedang menikmati kopi duduk melingkar meja. Setelah memesan kopi, dia melanjutkan perbincangannya dengan kami yang mungkin sempat terputus dengan temannya di kota, tentang steemit----betapa steemit telah menjadi sebuah gunung Dollar bagi penambangnya. Mereka menggali dengan cara mengumpulkan komunitas, bahu membahu membangun sinergisitas dan komitmen. Sehingga dapat mendulang ribuan Dolalr setiap hari.
Di balik raut wajahnya yang cerah ia menempatkan posisi Steemit di ranting teratas setelah media sosial lain, Bitcoin dan segala macam platform yang muncul di internet. Lelaki yang tidak ingin kusebutkan namanya itu terus bercita-cita tinggi berusaha agar ia sukses di steemit terutama degi finansial. Ia seperti sedang bermimpi mampu menggulingkan teman-temannya yang sudah mencapai level tertinggi. Ambisinya begitu kuat untuk mendapatkan vote dan kepercayaan dari kurator se indonesia. Sehingga dengan segala daya ia melakukan pembaharuan terhadapa dirinya. Langkah awal yang ia lakukan adalah bisa menulis. Dia bercerita bahwa ia ingin belajar menulis. Dengan bisa menulis kelak ia berharap tulisan-tulisannya berselayar di postingan steemit.
Aku mendengar cerita lelaki itu dengan saksama. Meski sedikit mengerti tentang steemit, aku menatap lelaki itu penuh gairah. Tatapan yang tajam pada penglihatan yang serasi. Sekelumit harapan terbetik di hatiku. Akankah lelaki ini sukses, andai saja semua orang pindah ke Steemit untuk mengembangkannya? Pikirku. Namun bukan hal lucu jika orang-orang bisa di terima di Steemit tanpa batas, lalu setiap waktu mereka melakukan pertambangan Dollar di Steemit. Hanya sebahagiaan yang tersisa dengan pekerjaan di dunia nyata. Dunia semakin maju, peradaban semakin modern. Aku dan Lelaki itu pasti duduk santai dengan hanya menulis sebuah postingan kemudian dibayar dengan Dollar. Mudah sekali, tunggu apalagi kawan..Ayo ke Steemit...!!!
Ah...orang-orang tak akan percaya kalau dunia nyata akan semakin sepi. Pengunjung di jalanan hanya orang-orang yang ingin membeli barang yang tidak bisa dipesan secara online. Kakek-kakek tua yang tidak memahami dunia Digital.
Sambil menyeruput secangkir kopi, lelaki itu terus berbicara. Aku mendengarnya dengan tekun. Pikiranku menjalar hebat tentang steemit yang dia ceritakan. Aku menatap kedua kali dalam sudut matanya yang merah. Ia kemudian membuka smartphonenya dan mengajari kami berbagai hal mengenai steemit, cara bermain; cara mendapatkan level; juga hal-hal lain sampai pada titik cara memberikan suara kepada saksi. Kembali mataku tertegun menatapnya. Dialah lelaki sukses yang bakal menguasai kecanggihan teknologi ini. Sebab berdasarkan pengamatanku lelaki itu sangat mengerti segala elemen yang berkesinambungan di platform steemit itu. Berselang beberapa menit setelah kami melakukan diskusi singkat itu, lelaki itu kembali memperlihatkan penghasilannya pada kami. Ia sudah mendapatkan ratusan Dollar setiap harinya. Bagaimana dengan sahabat steemian lainnya, apakah Anda penerus selanjutnya...?
Tak lama kemudian hanya beberapa menit setelah bercerita. Lelaki itu menampakkan pada kami bahwa di Steemit juga bisa mengirim foto-foto lucu dan berbayar. "Dmania," katanya. Setelah membayar kopi kami semua, lelaki itu mengambil tasnya lalu pamit pulang dengan tangan salam sukses kehadapan kami semua.