KEMARIN, hari kebangkitan nasional. Saya ingin menulis soal kebangkitan kita secara personal maupun berkelompok. Ini bisa dikaitkan dengan komunikasi personal antar individu. Semisal, menjaga komunikasi/silaturahmi antar teman. Saya punya keyakinan, menjaga silaturahmi salah satu rumus menjaga saudara, menambah saudara dan mempererat hubungan yang telah baik.
Kita tahu, manusia tempat penuh cela. Penuh alpa dan khilaf dari masa ke masa. Tentu, saya, anda dan kita semua pernah berbuat salah. Sekecil apa pun salah itu, tetap kategorinya salah. Sebut saja misalnya, kesalahan abai akan komitmen berteman. Saya kerap menulis soal pertemanan.
Seorang guru besar antropologi, Prof Molalatoa, pernah berpidato begini-kalau kamu hidup individual, niscaya usia 40, kamu belum menjadi tokoh, sebaliknya, jika berkelompok dan menjaga jejaring komunikasi, niscaya kamu akan menjadi orang yang diperhitungkan-ini kalimat baik yang saya ingat.
Kaitannya dengan kebangkitan nasional, marilah kita bangkit untuk terus menjaga komunikasi. Sekali waktu, saya sering melakukan hal kecil, mengucapkan selamat ulang tahun, selamat ulang tahun pernikahan buat teman atau bahkan anaknya. Teknologi modern memudahkan kita mengingat itu, karena diingatkan oleh aplikasi ulang tahun di media sosial.
Maka, saya akan segera mengirimkan pesan ucapan selamat ulang tahun buat teman itu. Kebiasaan itu terus saya lakukan.
Kebangkitan lain, mungkin bisa kita lakukan sesederhana mungkin dengan cara saling bertanya kabar. Jangan seperti ungkapan pepatah klasik-jangan tanya temanmu ketika dia kaya, tapi tanyalah kabarnya ketika dia miskin-kita terkadang abai akan kemiskinan teman. Sehingga benar-benar lupa akan kabarnya, keluarganya dan anaknya.
Hidup seakan begitu individual. Tentu tak semua kita begitu. Ada juga yang pro aktif membantu temannya. Sederhanya, jangan komunikasi dengan teman sekadar ketika kita butuh bantuannya. Komunikasilah terus menerus. Itu akan mempererat hubungan.
Terakhir, mari bangkit dari sisi negatif kita. Tinggalkan hal-hal negatif. Ah, saya juga belum berhasil meninggalkan semua kenegatifan itu. Namun setidaknya saya belajar untuk meninggalkannya. Perlahan, semua kita, tentu ingin menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Selamat hari kebangkitan nasional. Mari berbuat baik untuk kita semua.

