PELAKSANAAN Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018 telah selesai. Ujian tulis telah dilakukan. Saat ini, sejumlah kampus berstatus negeri sedang melakukan ujian keterampilan buat jurusan tertentu. Bagi yang tidak mengikuti ujian keterampilan, tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Menunggu, kata kalimat legendaris-pekerjaan yang membosankan-tentu itu ada benarnya.
Bagi mahasiswa yang lulus lewat Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) saat ini tahapannya yakni pendaftaran ulang. Ini sudah selesai. Mereka akan kuliah sesuai jadwal yang ditentukan. Masa tegang telah lewat.
Masa tegang berikutnya dialami oleh anak muda yang ikut SBMPTN. Jalur kedua ini tentu menjadi paling akhir bagi beberapa kampus negeri. Ada 12 kampus negeri dan swasta yang akan membuka tahap tiga dengan nama ujian mandiri. Biayanya lazimnya jauh lebih mahal.
Maka, SBMPTN menjadi ujian paling menegangkan. Saya memahami perasaan calon mahasiswa itu. Mereka tentu sudah berusaha semaksimal mungkin. Belajar sekeras mungkin sebelum ujian berlangsung.
Tentu, ada satu faktor lagi yang menentukan-nasib-kata lainnya takdir dari sang pencipta. Banyak calon mahasiswa lalu tak lulus dari semua jalur yang dibuka oleh pemerintah. Mereka akhirnya berlabuh pada kampus swasta.
Bagi saya, itu sudah menjadi takdir. Toh, sudah berusaha maksimal. Namun hasil akhir tetap pada sang pencipta. Takdir kita membawa kita pada jalan itu. Maka, tak perlu menggerutu. Apalagi merasa kecewa, lalu menyalahkan diri sendiri bahkan orang tua. Menyalahkan orang tua misalnya, kenapa tak melobi pihak kampus agar lulus.
Saya ingat cerita teman saya, bahwa dia lulus pada jurusan yang tak dia sukai. Bahkan tak pernah dipilihnya. Lalu mereka yang tak lulus ditawarkan kuliah pada jurusan yang baru dibuka. Teman saya ini menggunakan prinsip, daripada tak kuliah, mending kuliah. Walau jurusan itu kurang disukai.
Setelah kuliah berlangsung, pelan-pelan, dia menyukai pelajaran demi pelajaran. Menyukai suasana kelas dengan dosen yang keren dan cakep. Apalagi menemukan tambatan hatinya di kelas itu. Nah, ini cerita yang tak pernah dipikirkan sebelumnya ketika dia tak lulus.
Ini hikmahnya. Selalu ada kisah baik setelah kisah pilu. Karena itu, maka saya imbau agar stemians muda tak perlu risau, jika di semua jalur pun tak lulus. Tuhan menentukan takdir kita yang terbaik. Tugas hamba hanya berusaha maksimal, berdoa dan berbuat terbaik.
Saya percaya orang baik akan mendapatkan hal-hal baik. Namun tentu butuh ujian. Layaknya naik kelas, ujian tentu ada buat naik ke kelas berikutnya. Maka, gagal itu lah ujian sebenarnya. Tetap semangat.

