Saya suka duduk merenung membayangkan kejadian-kejadian yang sudah saya alami. Menghubungkan satu dengan yang lainnya. Melihat betapa waktu berjalan dengan cepat. Waktu mengubah semuanya. Manusia jadi objek perubahan. Bagi saya tidak ada yang lebih kejam daripada waktu. Dia membunuh dengan sangat muslihat. Mengobrak-abrik perasaan. Melempar ambisi ke belakang menjadi abu yang bertebaran.
Sekarang, mari kita sedikit merenung tentang waktu yang sering kita salahkan keberadaannya. Waktu memang mengubah segalanya, tapi kita tidak punya alasan untuk menyalahkan siapapun. Kita hanya perlu berdamai dan ikhlas menerima apa saja yang terjadi. Pemahaman ini perlu kalian ketahui agar hidup senantiasa harmoni dan bahagia.
Saya punya dua orang teman. Mereka akrab dan saling berbagi pengalaman. Mereka menangis dan tertawa bersama. Salah satu dari mereka perna memperlihatkan pesan-pesan singkat dari temannya itu kepada saya. Saya melihat keakraban yang tidak akan lekang .Suatu ketika, salah seorang dari mereka harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dia memilih perguruan tinggi di luar daerah. Hal ini tentu saja menuntut keduanya untuk berpisah.
Pada hari keberangkatan, dia masih sempat memperlihatkan pesan dari temannya itu pada saya . Mereka bersedih. Keduanya saling meyakinkan bahwa semuanya akan seperti biasanya. Jarak bukanlah hal yang akan memisahkan persahabatan mereka. Keduanya yakin ini bisa mereka lewatkan dan mereka tetap bersahabat layaknya biasa.
Beberapa bulan belalu setelah perpisahan itu. Saya adalah salah seorang saksi akrabnya mereka sebelum keberangkatan. Tahun berganti tahun, namun ingatan saya masih sangat segar untuk mengingat apa yang terjadi. Saat teman perantau itu pulang, segalanya berubah. Mereka terlihat seperti tidak pernah saling mengenal. Saya bingung dan mencari tahu apa penyebabnya. Tidak ada pertengkaran atau hal internal apapun. Kemudian saya mencoba menarik sebuah kesimpulan. Waktu telah mengubah semuanya.
Dalam ilmu mantiq, dua buah muqaddimah (premis) menghadirkan sebuah natijah (konklusi) yang tertulis sebagai berikut
العلم متغير ، كل المتغير حادث = العلم حادث
‘Alam itu berubah (muqaddimah 1), setiap yang berubah itu baharu (muqaddimah 2)
Natijahnya adalah ‘Alam itu baharu.
Dalam mantiq, alam adalah segala sesuatu selain Allah, mencakup manusia, waktu, dan tempat. Kita akan menganalisa ketiga hal tersebut. Sebagaimana yang sudah saya bahas di atas, waktu sangat kejam. Ia akan mengubah segalanya. Kita pasti pernah menduduki bangku Sekolah Menengah Atas. Masih ingat apa yang kita ucapkan pada hari perpisahan?
”Saya tidak akan melupakanmu”
Berselang beberapa tahun, semuanya berubah. Walaupun pernah menghadiri reuni beberapa kali, tetapi kita pasti mengakui bahwa keadaan tidak akan pernah sama seperti pada SMA dulu. Tidak hanya waktu, tempat juga telah mengubah kita dengan segala kekejamannya. Setelah lulus, kita harus melajutkan pendidikan ke luar daerah bahkan ada yang langsung menikah kemudian bertempat tinggal di segala penjuru daerah. Tempat telah mengubah perilaku kita dan segalanya.
Kita adalah alam. Makhluk Allah yang akan mengalami perubahan. Diubah oleh waktu, tempat dan manusia .Oleh karena itu, saat berpisah, jangan berharap lebih agar seseorang masih sama saat mereka kembali. Apa kemudian yang menjadi kewajiban kita? Terimalah teman anda sebagai sosok baru dengan segala perubahannya. Jangan sekali-kali meminta dia menjadi seperti dulu. Itu bertentangan dengan makna hakikat alam. Disinilah letak kebijaksanaan kita nantinya . Perpisahan bukanlah akhir segalanya memang benar. Yang tidak berubah itu Allah, yang tetap adalah perubahan.