Ilustrasi (sumber: filmbor.com)
Kawan Steemian,
Kemarin siang kebetulan saya sedang apes. Ban motor saya kempes tiba-tiba, untungnya tidak seberapa jauh dari TKP ada tukang tambal ban, jadi saya tidak harus ngos-ngosan mendorong si pio (Yamaha Scorpio) yang beratnya seperti menarik seekor kerbau yang lagi malas.
Butuh waktu kira-kira 25 menit untuk menunggu proses 'bedah ringan' bannya, saya pun duduk manis sambil mendengar celoteh Bang Raman, tukang tambal ban yang ngomongnya tidak putus-putus seperti penyiar radio AM jadul.
"Kabeh jeut keu caleg dum, mulai dari penyanyi, awak peuget cagouk (lawak), awak wet-wet gaki (koun ureung ceumeucoup, tapi pengangguran), kontraktor, awak meukat, geuchik pih na chit. Kale caleg ngon ureung pileh. Alah hana ku 'ek drouk kuh, meuhan ka meutamah sidroe treuk awak tempe bhan yang 'ek caleg, teuma njou ku 'ek droe kuh ka hana ureung tempe bhan le di sinou" ¹, demikian celoteh Bang Raman sambil terkekeh, tampak giginya yang karatan karena nikotin tembakau.
(Dokumentasi pribadi)
Tahun depan tepatnya pada 17 April 2019, rakyat Indonesia akan kembali memilih calon wakil rakyat (legislatif) untuk periode 2019 - 2024. Berbeda dengan Pemilu 2014 yang lalu, Pemilu legislatif yang akan datang akan dilaksanakan bersamaan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden periode 2019 - 2024.
Untuk Pilpres, saya tidak ingin fokus membahasnya di sini. Karena saban hari lini masa medsos selalu penuh dengan jualan capres-cawapres oleh para pendukung militannya, saya menyebutnya sales copras-capres.
Selain "perang dingin" dengan bahasa-bahasa kampungan yang dilakukan oleh sales militan capres-cawapres, ada juga yang fokus dengan edukasi politik dengan jualan program-program andalan jagoannya masing-masing. Saya kira yang terakhir ini lebih menarik dan positif.
Nah, untuk Pemilu legislatif sekarang ini telah banyak kita lihat media-media kampanye seperti baliho-baliho raksasa, spanduk-spanduk panjang, poster-poster, para kontestan yang dipajang di mana-mana.
(Dokumentasi pribadi)
Berdasarkan amatan mata kepala saya, rata-rata media kampanye yang dipajang itu hanya menampilkan foto-foto para caleg dengan bermacam gaya yang telah di poles (edit) sedemikian rupa, senyuman yang dipaksakan, setelan pakaian mewah seperti mau wisuda atau mau ke kondangan.
Ada juga yang menyertakan jargon-jargon seperti "bersih" (ya iya lah, kalau jorok siapa yang mau pilih?), "peduli" (ini saya bingung maksutnya peduli apa?), "tokoh muda"(tokoh muda lintas warkop kali), "enerjik"(kebanyakan minum extra joss sepertinya), "modern" (yang lain mugkin sudah ketinggalan zaman?) atau "bermartabat" (martabak kali!).
Hanya saja hampir tidak ada yang mencantumkan "apa sih program yang mereka tawarkan kepada rakyat?" Sehingga sebagai pemilih kita akan mempertimbangkan untuk memberikan dukungan suara untuk mereka dan partainya, tidak seperti membeli kucing dalam karung.
"Mohon doa dan dukungan" atau kalimat perintah "coblos nomor saya", pinta mereka dengan modal senyuman seperti CS-CS Bank, kadang ada juga yang nampak igou baci satu sisir. Dari sekian peserta kontestan itu, paling hanya satu-dua yang kita kenal, selebihnya entah siapa.
Jika begitu model kampanyenya, maka Pemilu tak ubahnya seperti beli lotre, alias untung-untungan, bukan?!
¹Habis jadi caleg semua, mulai dari penyanyi, pelawak, orang goyang-goyang kaki (bukan tukang jahit, tapi pengangguran), kontraktor, pedagang, geuchik pun ada juga. Sudah lebih banyak caleg daripada pemilih. Untung saya gak naik (caleg), kalau tidak sudah bertambah satu orang lagi tukang tambal ban yang naik caleg, tapi kalau saya ikut nyaleg, udah tidak ada lagi yang tempel ban di sini.