Akhir-akhir ini lapak buku saya agak sepi. Jika sebelumnya setiap hari saya harus packing pesanan buku dan mengantarnya ke kantor pos, tapi beberapa hari ini paling 3-4 hari sekali saya ke pos. Saya tidak tau kenapa, apakah memang perekonomian lagi sulit? Saya mesti menanyakannya ke teman-teman ahli ekonomi atau petugas BPS, karena mereka pasti memiliki data soal perekonomian dan daya beli masyarakat sekarang ini.
Kopi dan Steemit. (Dokumentasi pribadi)
Saya biasanya nge-lapak buku online di warung-kopi, bisa dibilang warung kopi adalah kantor tempat saya bekerja. Sedangkan untuk bungkus-bungkus buku-buku pesanan itu saya lakukan di rumah.
Meladeni tantangan anak saya, Syamil, main catur jika lagi tak ada kesibukan. (Dokumentasi pribadi)
Jika di hari libur saya sering mengajak kedua anak saya ngopi di kantor (baca: warung kopi), dan anak-anak saya sudah paham bahwa "kantor" abinya di warung kopi. Pernah satu kali, kepala lorong di tempat saya tingggal datang ke rumah untuk membagikan undangan maulid, saya sedang tidak di rumah, Pak Keplor bertanya pada anak saya Syamil,
"Ayah ada?"
Dengan mantab anak saya menjawab, "Abi masih di kantor".
"Di mana kantor abi?", tanya Pak Keplor lagi.
"Di warung kopi" jawab anak saya, yang disambut senyuman geli Pak Keplor, mungkin dalam pikiran jahilnya nyelutuk, "ngantor kok di warung kopi?!".
Anak saya, Syamil dan Maher, ngopi di salah satu "kantor" Abi pada suatu Minggu. (Dokumentasi pribadi)
Padahal jaman sekarang, orang yang ngantor di warung kopi bukan cuma saya saja, saya kenal dengan beberapa teman yang berprofesi sebagai arsitek, ada juga konsultan teknik sipil, mereka menjadikan warung kopi sebagai kantor tempat bekerja. Hal ini membantah tesis oleh sebagian orang yang menganggap bahwa orang yang berlama-lama nongkrong di warung kopi adalah orang-orang malas atau pengangguran.
Apalagi dengan hadirnya Steemit, maka semakin menambah jumlah orang-orang yang produktif di warung kopi. Warung kopi tidak lagi menjadi tempat untuk menghabiskan waktu dan uang, tapi malah bisa menghasilkan uang, salah satunya dengan Nge-Mit.
Saya sendiri karena lapak buku lagi sepi, tidak sampai kehilangan kesibukan, karena bisa saya alihkan dengan menulis di Steemit. Bagi saya lapak buku adalah double starter, jika double starternya mati, cara lain untuk menghidupkan suasana adalah dengan engkol Steemit. Bruummm...bruummm!
Lhokseumawe, 5 Maret 2018