Bahagia itu Sederhana. Pasti udah sering bahkan hapal banget, deh, dengan rangkaian tiga kata ini kan, Steemians? Yup. Satu lagi yang paling sering diucap sebagai pengingat untuk selalu beraksi positif adalah "Jangan lupa bahagia, ya!"
Hayo, sering banget kan mendengar atau bertemu dengan kedua kalimat di atas? Yes. Karena bahagia itu sebenarnya ga berat-berat amat, lho, untuk mencapainya. Seorang teman yang adalah juga guruku, bilang begini.
Sebenarnya bahagia itu ga perlu dicari, loh, Al, karena sebenarnya dia ada di dalam hati. Bahagia itu adalah rasa. Dan dia sebenarnya bersemayam di dalam diri, di dalam hati!
Oh, okey! Iya, percaya kok jika bahagia itu adanya di dalam hati. Tak perlu dicari, tapi justru dibangkitkan dari dalam diri, karena sesungguhnya dia, terkadang memang 'tertidur' karena dilupa.
Sebenarnya bukan dilupa juga, sih. Karena pada kebanyakan kita, yang diamuk oleh belitan sulitnya kehidupan, boro-boro untuk mengingat bahwa bahagia itu ada di dalam diri, bahkan untuk bisa tesenyum saja, kita rasanya sudah lupa bagaimana caranya, boro-boro mau mencari bahagia. Padahal, senyum itu adalah pemicu aliran energi bahagia itu sendiri, loh! Ya kan?
Halah, Al. Boro-boro bahagia, bisa makan aja udah syukur. Bisa nyekolahin anak aja, udh seneng banget."
Lha, bukankah pernyataan di atas, sebenarnya sudah menunjukkan bahwa seharusnya dia bahagia? Karena sudah bisa makan dan bisa nyekolahin anak, berarti sudah bahagia, donk?
Atau...,
Halah, Al. Gimana mau bahagia, keperluanku banyak gini, jeh. Belum lagi terbelit oleh hutang yang kian melilit pinggang. Gimana mau bahagia, coba?
Hm...,
Iya, sih. Jika kita terus larut dalam keluh, jika kita terus tenggelam dalam ketidakyakinan bahwa kita akan mampu membereskan satu persatu persoalan, maka menemukan bahagia itu memang sulit. Tak semudah teori yang terucap, bahwa bahagia itu sederhana.
Padahal, kata temanku itu, dan juga para motivator dan guru meditasi, bahwa sebenarnya bahagia itu beneran sederhana, loh!
Bahagia itu Sederhana
Aku sendiri termasuk yang setuju dan yakin akan hal ini. Bahwa bahagia itu sederhana, dan memang berada di dalam diri. Hanya butuh niat dari dalam diri pula, untuk benar-benar membangkitkannya kembali, setelah 'tertidur' sekian lama.
Caranya, Al?
Dimulai dengan niat di dalam hati. Bahwa aku ingin membangkitkan bahagia, dan menularkannya ke seluruh anggota keluargaku, juga lingkungan sekitar. Pernah ga sih ngerasain? Saat kita sedang dalam keadaan pelik, stress berat. Lalu ada sebuah senyuman tulus, disertai sentuhan penyemangat dari orang terkasih (suami/istri, anak, ayah/ibu, kakak/adik, atau bahkan sahabat) yang mengalir tulus ke kita? Apa reaksi tubuh dan hati kita dalam menerima senyum tulus dan sentuhan penyemangat itu?
Ada rasa sejuk/senang yang spontan mengalir di dalam diri. Iya kan? Nah, see? The contagious of a smile. Senyum tulus itu menular. Energi positifnya dasyat! Cobain deh! Senyum, sesungguhnya adalah pemicu bahagia. Yang serta merta akan membangkitkan bahagia, asalkan..., kita sendiri tidak menghalangi jalaran energi bahagia ini untuk merembet dan berkembang meluas.
Tapi, Al, senyuman itu tak mampu menyelesaikan persoalan, loh!
Memang tidak! Etapi, dengan adanya rasa sejuk/senang di hati, bukankah pikiran akan terasa lebih tenang dan mulai lebih jernih dalam berpikir? Sehingga akan lebih terbantu dalam mencari solusi dari persoalan-persoalan yang bebani diri?
Salam,
Al, Bandung, 1 Juni 2018