Dewasa ini jamur telah menjadi kebutuhan dan bagian hidup manusia. Tanpa jamur mustahil dapat membuat roti, tempe, tape, oncom, tauco dan obat-obatan seperti penicillin. Beberapa jenis jamur merupakan sumber makanan setara dengan daging dan ikan yang bergizi tinggi. Jamur merupakan bahan pangan alternative yang disukai oleh semua lapisan masyarakat, diantaranya jamur kuping (auricularuia auricular), jamur merang (Volvariella volvacea) dan jamur tiram (Pleurotus spp.).
Jamur tiram putih (Pleurotus astreatus) merupakan jenis jamur kayu yang dapat dikonsumsi dan bernilai gizi lebih tinggi dibandingkan jamur kayu lainnya. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fosfor, besi,thiamine, dan ribloflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain juga mengandung 18 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dan tidak mengandung kolesterol.
Dalam melakukan budidaya jamur tiram dan jamur merang benih merupakan faktor yang penting untuk menentukan kualitas pertumbuhan dan produktivitas jamur. Kualitas bibit jamur yang bagus dapat melakukan adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan. Bibit jamur tiram putih dan jamur merang berasal dari miselium yang dapat diambil dari biakan murni atau F0 dari media MEA (Malt Extract Agar). Miselium dapat diperbanyak dalam cawan petri atau tabung miring yang berisi media MEA. Miselium yang diambil dari koloni selanjutnya, dapat diinokulasi pada media F1. Bibit F1 merupakan perbanyakan miselium hasil pembiakan dari F0.
Keberhasilan pembuatan bibit F0 pada media MEA ditandai dengan adanya pertumbuhan miselium yang merata memenuhi permukaan media. Awal dari budidaya jamur membutuhkan biakan murni yang bebas dari kontaminasi dan memiliki sifat–sifat genetik yang baik, yakni dalam hal kuantitas maupun kualitas. Untuk menghasilkan mutu jamur yang baik tentu sangat tergantung dari mutu bibitnya, bibit jamur tiram dan jamur merang yang baik salah satunya ditandai dengan pertumbuhan miselium yang merata diseluruh permukaan atas media.