Intro
Waktu berlalu dengan cepat, seakan baru kemaren saya belajar berpuasa setengah hari. Hari ini, sudah begitu banyak musim puasa terlewati, dan entah berapa di antaranya yang benar-benar selamat. Tulisan berikut adalah semacam lelucon untuk menghibur kita semua, silahkan tanggapi dan berbagi, dan semoga terhibur.
Cerita Satu : Bripda Zia dan Si Eneng Penjual Pecal
Jadi gini, kemaren sore Briptu mengunjungi pasar kaget di perempatan ujung kampung untuk mencari bekal berbuka sambil sekaligus menikmati suasana sore. Beliau berhenti di gerai yang menjual pecal dan memesan beberapa bungkus. Setelah selesai, waktu membayar Bripda Zia berkata kepada cewe yang melayaninya, "Mau berbuka bareng saya, Neng?"
Si Eneng sambil tersipu berkata, "Ih .. Abang ini! Kenapa ajak-ajak saya? Kenal pun ngga."
Gayung bersambut, Bripda Zia menjawab, "Kan berbuka itu makin afdol kalau dengan yang manis, Neng."
Emak si Eneng yang ikut berjualan tergelak, lalu berkata, "Tapi ijab qabul dulu, Bang"
Bripda Zia tertawa. Si Eneng tersipu sambil berkata, "Emak gitu, ih..."
Cerita Dua : Nunggu Beduk Magrib
Tadi sore, beberapa menit setelah Ashar, Briptu mengirim Direct Message (DM) ke Discord. Bicara dikit tentang ini, sedikit tentang itu. Sampai akhirnya dia nanya, "Lagi ngapain?"
"Nunggu beduk berbuka," jawabku.
"Oo, sambil maen Steemit, ya?"
"Bukan," balasku, "sambil ngemil."
"Oh iya," katanya, "besok-besok biar kuat puasanya, jangan lupa makan siang."
Hehe, kupikir aku masternya.
Cerita Tiga : Briptu Achie dan Pengalaman Berpuasa Waktu Masih Bocah
Beberapa hari sebelum puasa, aku dan Briptu bercerita tentang pengalaman masing-masing saat belajar berpuasa di masa masih bocah.
"Saya ingat waktu umur 5 tahun," katanya, "baru jam 9 pagi, sudah lapaaar sekali. Tahan-tahan, sampai juga ke jam 10 baru buka."
"Sama," timpalku.
"Kadang-kadang," sambungnya, "suka lupa juga waktu belajar puasa sampai tengah hari, udah minum segelas baru ingat kalau sedang puasa."
"Sama lagi," komenku.
"Setelah dua atau tiga kali lupa, besok-besoknya saya selalu berusaha agar lupa. Ternyata lupa itu sebuah berkah."
"Ah! Lagi-lagi sama!" Kataku, "Cuma, jangan sampai lupa di depan orang lain, malu kali kalau gitu."
"Ho'oh! Jangan sampai demikian."
Cerita Empat : Tarawih Yang Berkah
Teringat waktu saya masih bocah, Seseta (Sekitar Sepuluh Tahun), rajin ikut teraweh karena dikejar-kejar sama Bapak. Suatu malam, saya dan dan Cikgu
(waktu itu belum Cikgu, pastinya), berdiri berdampingan dalam baris terakhir anak-anak lelaki.
Pada rakaat ke sekian, saat Pak Imam sedang membaca Fatihah, seekor kecoa muncul entah dari mana. ternyata takut kecoa, berbisik lirih, "Aduuh! Kecoa!"
sadar, bahwa
telah berbuat silap dengan berbicara saat shalat, mengingatkan, "Jangan bicara kalau sedang shalat, tar batal."
"Untung aku ngga bicara," kataku saat itu.
Sekian
Sekian. Dan bantulah rekan-rekan yang saya sebut di dalam artikel ini dengan mengunjungi, memfollow, memvote dan mengometari artikel mereka, jika mereka tidak membalas kebaikan kalian dalam waktu 1x24 jam, lapor kembali pada saya.
Apakah kalian juga punya pengalaman yang unik terkait puasa? Mau berbagi? Ayo, monggo. 😀😀 Selamat berpuasa bagi yang menjalankannya, dan selamatkan puasa. Hehe.
Terimakasih
Terima kasih telah singgah. Komentarilah. Komentarilah. Jangan sungkan.