Aku baru kembali dari meunasah, subuh itu.
Seperti biasa aku melirik iPhone 3 milikku.
Nampak 5 panggilan tak terjawab.
Apaan ini!? sepertinya ada masalah serius.
Aku lihat nama di daftar panggilan tak terjawab.
Ah biarin aja, aku lagi malas urus steemit, sbd turun drastis.
Aku lanjutkan buka pesan WA
"Apayek kita harus segera ketemu,setengah delapan aku tungggu di Starblack.Penting dan genting terkait Adi Warsidi ." Demikian bunyi pesan WA dari Bahagia Arbi.
Tepat setengah delapan, aku parkir Astrea star milikku di depan Starblack, Markas Besar KSI chapter Bireuen
Ketua sudah nampak di meja pojok dekat kasir.
" sedang di jalan" ujarku
"Okay, pesan minum dulu!"
tiba bersamaan dengan kedatangan pelayan mengantar kupi weng yang kami pesan.
"Kita dalam masalah besar", ketua memulai tanpa memberi kesempatan untuk duduk.
"Aku sudah hubungi dia sedang rileks di kebon kopi , di Takengon.
masih capek, baru pulang dari Medan kemarin sore."
"Kita dalam masalah besar!" diulangi lagi.
Kami saling pandang dengan Tinmiswary
" berduka, kita harus klarifikasi, kalau tidak masalahnya bisa panjang, jaringannya sangat kuat. Kita harus segera klarifikasi agar duka tidak makin mengoyak hatinya. Berbahaya bagi kita dan KSI, situasi darurat."
Kami berdua menarik nafas panjang. Tadinya kami sempat berfikir ada penugasan peliputan untuk terkait Bom di mako Poltabes Surabaya,
Wualaah ketua.
"Ini tissunya". lanjut ketua, sambil menunjukkan bungkusan plastik kecil yang berisi selembar tissue yang masih basah oleh tetesan air mata.
"Kemarin siang duduk di sini dan berlinang air matanya."
Kisah lengkapnya di sini
https://steemit.com/story/@abuarkan/salah-jadwal-segelas-kopi-di-star-black-d1c7c17a37c94
"Antarkan ke Banda, temui dia, sebagai bukti kita peduli padanya, dan sebagai bukti kesetiakawanan dan solidaritas KSI Bireuen."
"Kita harus ajak !" dia yang bisa melunakkan abuarkan, begitu kesimpulan yang kami sepakati dari hasil diskusi cukup panjang,
Diskusi yang memakan jarak sejauh 150 km, untuk kami sampai pada strategi, tentang bagaimana merapat ke yang sedang bersedih hati.
Tissu yang kami bawa semakin kering. Kami hubungi muhajir tidak terhubung. Situasi nampak gawat, kami coba hubungi hp nya juga tidak aktif.
Barangkali sedang direndam dalam air, dia sering mengeluh hp nya cepat panas akhir akhir ini.
Tepat saat makan siang kami tiba di Banda Aceh,.
Barusan sudah terdengar azan shalat Ashar.
Kawan steemian tissue semakin kering dan Abuarkan belum juga berhasil kami temui.