Aku bisa mengurus diriku sendiri, barangkali karena tuntunan alam yang tidak pernah kusadari. Ibu juga tidak pernah mengajari secara langsung. Tidak pernah ada campur tangan ibu dalam hal-hal kecil yang menyangkut baju, mandi, dan urusan kebersihan anggota badan lainnya. Kadang ada perasaan senang bila dapat membantu ibu. Suatu ketika aku membawa pulang seember air sumur. Kulihat ibu termenung sendiri sambil tersenyum padaku.
Saat itu ibu belum sakit parah. Bi Yem sering ikut membantu urusan rumah tangga kami. Ibu hanya ke ladang jika perlu melihat para pekerja yang disuruh menam kelapa dan sawit. Urusan ladang sering ditangani Lek Kijan, orang kepercayaan ayah yang rumahnya terletak diperbatasan ladang kami. Ayah memang mewariskan tanah cukup luas pada kami. Dua puluh hektare. Sebagaian telah ditanami kelapa yang sudah mulai berbuah. Lek Kijan yang mengurus semua itu dengan cara bagi hasil.
Semenjak sakit-sakitan, Ibu tidak lagi bekerja di ladang. Tetapi sibuk mengurus ayam dan itik-itik. Mengatur, merawat dan menetaskannya hingga berkembang biak sampai ratusan ekor. dia mengambil hasil dari penjualan telor. Setiap hari pekan ibu membawanya ke pasar Rantau Panjang, sebuah kota kecil yang ramai dengan para pekerja Asamera.
Setiap pulang dari pekan, aku selalu dibelikan oleh-oleh martabak atau mie goreng. Aku jarang dibawa ke pasar. Hanya sesekali jika aku dibelikan baju baru.
Hari-hariku yang sunyi dan sendiri. Di rumah, aku bermain-main bersama ayam dan itik-itik. Aku suka memandangi itik yang mandi sambil menyelam. Kejar-kejaran, kian kemari. Dan mereka kawin. Kadang juga aku berada di tengah kerumunan ayam yang sedang kuberi pakan.
Mereka selalu ramai. Ribut jika lagi berebutan dedak. Jika ada elang dan biawak yang mengintai, ayam dan itik berkoar-koar. Hanya Si Jago yang berani melawan musuh. Ayam jantan itu nekat bertarung. dia akan bertarung mati-matian untuk melindungi betina dan anak-anaknya.
Aku pernah melihat Si Jago ketika melawan elang. Tubuhnya yang kuat dan besar sanggup membuat seekor elang menjadi kecut. Tubuh Si Jago luka-luka. Ibu mengobatinya dengan ramuan kunyit yang sudah digiling. Aku sayang pada Si Jago. Karena dialah sahabatku. dia ayam yang tak pernah memukul anak-anaknya, dan berani mengorbankan diri untuk melindungi yang lain.
Masa kecilku yang sendiri. Entah apa yang kurasakan dalam kesendirianku yang sunyi. Sepi menjadi bagian dari hidupku yang harus kuakrabi. Duniaku hanya ruang lingkup rumah dan kolam. Tetapi aku selalu ceria dalam kesendirian itu, karena aku tidak mengerti. Sering aku termenung sendiri di pinggir kolam menghayalkan suatu dunia yang indah. Dunia indah dengan nyanyian yang sering menjelma dalam tidurku. Aku berada di tengah taman bunga yang indah bersama ibu dan ayah. Barangkali di surga. Entahlah.
Aku tidak mengerti dengan dunia, hingga begitu sering termenung dalam kebingungan. Hidup memang amat menjemukan. Aku menciptakan dunia sendiri. Sibuk dengan diri sendiri. Dunia kanak-kanak yang sepi menjelma taman-taman di tengah padang.