Sultan Iskandar Muda adalah keturunan dua raja, yang kelak menyatukan keduanya untuk menjadi kokoh dan kuat. Kedua pihak leluhurnya, baik dari ayah maupun leluhur ibunya adalah keturunan raja berbeda. Maka orang tidak terlalu heran manakala kelak Perkasa Alam (demikian namanya) kelak menjadi sultan paling hebat di Aceh, yang mampu menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di bawah kepemimpinannya.
Dalam beberapa manuskrip termaktub ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa yang merupakan keturunan Raja Darul-Kamal. Para abdi dan pegawai istana kerap memanggilnya Paduka Syah Alam. Putri Raja Indra Bangsa adalah anak Sultan Alauddin Riayat Syah yang merupakan Sultan Aceh kesepuluh. Sultan Alauddin Riayat Syah ini adalah putra Sultan Firman Syah, dan Sultan Firman Syah adalah keturunan Sultan Inayat Syah, Raja Darul-Kamal. Namun, para ahli sejarah tidak bisa memastikan secara tepat apakah Firman Syah anak atau cucunya dari Inayat Syah.
Sedangkan ayah Iskandar Muda adalah Sultan Mansur Syah, keturunan dari keluarga Raja Makota Alam. Sultan Mansur Syah adalah putra Sultan Abdul-Jalil. Abdul-Jalil sendiri merupakan putra Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh yang ketiga Aceh. Darul-Kamal dan Makota Alam merupakan dua tempat permukiman bertetangga yang dipisahkan oleh sungai. Kelak Iskandar Muda menggabungkannya menjadi Kerajaan Aceh Darussalam.
Konon, kala Sultan Mansur Syah menikahi Putri Raja Indra Bangsa, hajatan itu dilangsungkan dengan upacara besar-besaran. Tidak berbilang lama, Putri Raja Indra Bangsa pun mengandung bakal bayi sultan yang akan mewarisi dua kerajaan kecil di Aceh. Kelak dia tumbuh menjadi remaja yang kuat, ahli berburu, dan banyak belajar siasat perang dari kakeknya. Karena Iskandar Muda mewarisi keturunan dari kedua kerajaan (dari pihak ayah dan ibu), dia berhak menuntut tahta sepenuhnya atas kedua kerajaan itu yang kemudian disatukannya menjadi kuat dan disegani kerajaan-kerajaan asing.
Sumber Foto: Abulyatama