Salam hangat stemians, beberapa malam yang lalu saya pernah memposting tentang bagaimana pentingnya menulis dan terus menulis, lebih-lebih bagi anda yang masih mengadu untung di steemit ini, karena menurut saya ini adalah salah satu jalan mudah untuk bisa sukses di steemit. Dalam hal kaitannya dengan menulis tentu ada hal-hal prinsipil yang harus diperhatikan, terlepas bahwa anda seorang penulis ternama atau bukan
 untuk “menjadi siapa”. Ada yang cepat melesat bagai sebuah meteor namun kemudian lenyap entah di mana. Sirna dihempas waktu yang kadang jarang meninggalkan bekas
Seperti kata penyair terkenal "Chairil Anwar “Sekali berarti, sudah itu mati!”
Sekali berarti, sudah itu mati . Sekali terkenal, sudah itu terlupa. Manusia meteor. Nama-nama, misalnya Sinta-Jojo dan Norman, seakan “manusia meteor” itu. Sinta-Jojo jelas berbeda dengan Norman, yang waktu itu berpangkat Briptu. Memang, teknologi berperan penuh pada percepatan “melesat”-nya mereka, disusul peran media massa yang “mengorbitkan”-nya. Tapi kini, entah apa kabar mereka. Semoga mereka selalu sehat, senang, dan sejahtera.
Sekali berarti, sudah itu mati . Sekali terkenal, sudah itu meninggal dunia. Ini apa lagi? Tapi, mengingatkan saya pada tokoh seniman bernama Mbah Surip, yang melejit dengan lagu “Tak Gendong”, dan “Bangun Tidur” pada awal tahun 2009 (lagunya sudah ada tahun 2003 tapi terkenalnya malah tahun 2009). Bertahun-tahun mendiang merintis menuju “menjadi siapa”
Kembali kepada “waktu” atau “kesempatan”. Sebagian orang yang berinternet sejak sebelum tahun 2000, hingga kini tidak juga “menjadi siapa”, termasuk saya. Bukan persoalan “proses” atau “belum waktunya” alias “takdir”, melainkan memang berinternet tidak bertujuan “menjadi siapa”. Mereka-mereka yang berfokus pada “menjadi siapa”, dibarengi dengan “berproses serius” secara sabar-tekun, sangat mungkin “menjadi siapa” ketika “waktunya” tiba. Tidak sia-sia usaha mereka.
?
Saya pun bukan siapa-siapa dalam berdiskusi dan berargumentasi karya. Ngotot untuk menang, malah cenderung menjadi ‘usaha membuang waktu’. Diskusi jadi debat kusir tanpa kuda. Argumentasi saya masih kalah sedap dibanding terasi bangka. Waktu sangat berharga bagi saya, meski bukan berarti ‘waktu adalah uang’. Waktu luang bisa saya pergunakan untuk ngobrol via internet atau malah tidur panjang.
Oleh karenanya, melalui tulisan ini, dan di jejaring sosial steemit ini, saya sempatkan lagi serta terakhir kali untuk menyampaikan bahwa saya sudah tidak lagi menggebu-gebu untuk tampil di media massa industrial-komersial, apalagi di media steemit yang notabene tempatnya penulis-penulis handal, cerpenis, cergam, puisi dan photography berkumpul disini. Bagi sahabat semua yang masih berjiwa muda, jangan sia-siakan waktu kalian. Berkarya dan berkreatifitaslah semoga semua yang kalian punya tidak menjadi barang rongsokan di kemudian hari
![image](
![image](
TETAP SEMANGAT