Mampu kita bertahan dalam kondisi serba kesulitan ini, tangan-tangan jahil terus berkengkraman tanah-tanah kosong untuk membangun gedung-gedung yang megah atas nama pembangunan, penduduk di pemukiman terus tergusur paksa, ancaman terus dilontarkan oleh alat penguasa, mereka dengan bangga membela tuan-tuannya karena memberikan susu agar lebih sehat dan kuat. Tidak menghiraukan kebenaran dan kepemilikan lahan tersebut, sebab perintah para tuan-tuan tanah harus dijalani.
Terus berbangga diri dan memukul dada di depan orang yang tertindas, lalu bilang kami kuat dan kami akan menancam kaki dalam tanah untuk membela tuan kami yang sudah memberikan segelas susu setiap pagi, kalian tidak berhak lagi atas tanah ini karena tuan kami sudah menguasainya, kira-kira begini ucapan yang dilontarkan oleh penjajah.
Memakai berbagai atribut agar penduduk setempat bisa terusir dari tanahnya, besi tua terkadang diletuskan ke udara agar penduduk mundur dari perlawanan dalam membela hak atas tanahnya. Begitu sedih diperlakukan seperti budak, tawanan bahkan mereka harus keluar dari pemukiman karena diusir.
Berbahagialah para tuan-tuan dan boneka-boneka peliara mu ketika melihat penderitaan yang dirasa oleh kaum lemah dan berdaya, tanah kami tidak akan kulepas sejengkalpun untuk kalian karena ini punya kami dari warisan nenek moyang suruh jaga dan merawatnya, agar kiamat tidak datang besok akibat tangan-tangan jahil tuan-tuan.