Plengkung ini masih kelihatan asri dan bentuknya juga masih asli seperti dahulu kala dan berfungsi sebagai pintu keluar masuk dari dan ke Istana Keraton Yogyakarta. Plengkung Nirbaya adalah nama lain dari Plengkung Gading, terletak di bagian selatan dari alun-alun Kulon Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Jika dilihat dari tata kota secara keseluruhan, plengkung gading tersebut terletak bergaris lurus dari Gunung Merapi, selanjutnya ke Keraton Yogyakarta dan keluar dari Plengkung Gading, terus ber-arah lurus hingga ke pantai Selatan.
Dahulu, bentuk fisik bangunan plengkung dikitari oleh parit disekelilingnya dan terdapat jembatan penghubung untuk memasuki atau keluar dari gerbang (plengkung) ini. Parit yang lebarnya sekitar 10 meter dengan kedalaman sekitar 5 meter dialiri oleh air yang jernih sebagai bagian dari sistem pertahanan benteng kraton Yogyakarta masih terlihat bekasnya. Bentuk fisik bangunan pelengkung ini terdiri dari undak-undak yang unik dan dihiasi oleh ornamen sulur yang meliuk lembut serta indah bentuknya masih bisa dilihat hingga kini.
Tempo lalu, plengkung gading juga memiliki daun pintu yang kokoh di bagian selatan bak pintu benteng lainnya di belahan dunia, sisa pintu tersebut dapat terlihat dari peninggalan besi engsel yang masih bertengger di kanan kiri gerbang bagian selatan.
Plengkung ini dibangun bersamaan dengan beteng yang mengelilingi keraton atas prakarsa Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Sultan HB I pada tahun 1785.
Kini, lingkungan di sekitar plengkung gading telah berubah seiring dengan perkembangan kota dan pertambahan penduduk di sekitaran kota Yogyakarta, parit dan jembatan penghubung untuk masuk dan keluar tidak terdapat lagi, namun benteng dan plengkung gading masih berdiri tegak dan dilalui keluar masuk oleh kenderaan dan masyarakat setiap hari.
Namun, tidak bagi Sultan atau Raja Yogyakarta yang sedang dan masih berkuasa. Sultan tidak diperbolehkan melewati Plengkung Nirbaya ini, plengkung ini hanya diperuntukkan oleh dan untuk keluarnya jenazah Sultan yang mangkat menuju ke makam raja-raja di Imogiri. Nah,...
Mahdi Abdullah, dan dari berbagai sumber