Sehari setelah mendapat telepon dari Asmaul Husna untuk mengisi kelas di Forum Aceh Menulis (FAMe) Lhokseumawe, pada Selasa 4 Desember 2028, saya ditelepon Dinas Pendidikan untuk jadi juri lomba karikatur memperingati Hari Antikorupsi di Kejaksaan Negeri Lhokseumawe.
Meski menjadi juri ada honornya, meski sekarang menganggur, saya tetap memilih mengisi kelas FAMe karena sudah terikat janji. Saya pikir, justru ketika susah godaan itu datang lebih kuat. Beramal ketika miskin lebih utama dibandingkan ketika kaya. Mengisi kelas FAMe bagi saya termasuk beramal. Barangkali Allah akan menggantikan dengan kesempatan lain untuk mendapatkan honor yang lebih bernilai, lebih berkah, lebih melimpah.
Hari Jumat (7/12/2018) sore, Jurnalis Pase Football Club (JPFC), berbanding melawan PS Aceh Mantap yang diperkuat sejumlah bekas pemain profesional. Kami sudah siap kalah tetap tidak mau menyerah sebelum bertanding. Maklumlah, meski ada beberapa pemain JPFC juga mantan atlet sepakbola, stamina tidak mendukung karena sudah lama tidak latihan.
Di luar dugaan, JPFC menang adu penalti setelah skor akhir 1-1 (JPFC menang lebih dulu). Padahal, selama 2 X 40 menit, permainan hanya berlangsung di sebelah lapangan. Gawang JPFC diserang bertubi-tubi.
Dengan kelelahan yang luar biasa, saya tidak bisa langsung istirahat. Setelah menyelesaikan tugas-tugas rumah, mengurus anak-anak, saya menyiapkan materi pelatihan tentang “Menulis Cerpen Dalam Sekali Duduk”. Saya sangat serius mempersiapkan bahan.
Buku-buku tentang kepenulisan, menumpuk di atas meja. Saya ingin peserta (yang sudah mendaftar 30 orang), benar-benar yakin mereka bisa menulis cerpen dalam sekali duduk. Saya sudah menyiapkan metodenya, disertai pengalaman saya yang sudah menulis ratusan cerpen dalam sekali duduk. Saya banyak menyertakan juga pengalaman kreatif penulis dunia.
Dengan power point sekitar 23 halaman (saya tidak ingat persisnya), saya baru bisa tidur sampai pukul 1:30 dini hari. Paginya, saya agak terlambat bangun dengan otot nyeri dan pegal sekujur tubuh. Beginilah selalu setelah lama tidak latihan, tapi langsung dipaksa bertanding.
Beberapa peserta yang sudah confirmed hadir, datang dengan mobil saya. Tidak ada peserta di perpustakaan Sekolah Sukma. Sampai satu jam menunggu, hanya ada lima peserta.
Saya langsung mengabari Asma. Di grup FAMe Lhokseumawe juga saya kabari. “Jam sudah bekerja, tapi orang belum bekerja,” sebut saya.
Asma yang sedang berada di Banda Aceh, merasa menyesal sekali. Diakuinya, kondisi seperti inilah yang membuatnya terkadang tidak bersemangat mengelola acara pelatihan tak berbayar seperti di FAMe.
Saya jadi teringat dengan pesan Bang Yarmen Dinamika, seorang pendiri FAMe tentang beberapa tokoh yang menolak menjadi pemateri di FAMe karena tidak ada honornya. “Penolakan itu harus dijadikan pelecut semangat. Selalu ada penulis yang mau mengajar tanpa dibayar, yang penting setelah mendaftar pastikan bisa hadir,” kata Bang Yarmen dalam grup whatsapp FAMe.
Bagi saya, memulai pelatihan dengan lima orang bukan persoalan. Dengan lima peserta sampai berakhir acara pun, saya bisa menikmatinya bahkan dengan mudah memberikan materi yang praktis biar lebih bisa mencurahkan perhatian ke semua peserta. Seandainya saya tidak ada kegiatan lain, menunggu satu jam pun bisa saya terima.
Tapi saya sudah membuang dua peluang terbaik untuk mengisi kelas FAMe: Menjadi juri lomba karikatur yang ada honornya (berapa pun sangat bernilai di tengah menganggur seperti sekarang) dan yang kedua mengikuti workshop Google News bagi para jurnalis.
Acara yang terakhir ini digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerja sama dengan Google dan Internews di Harun Square Hotel, Lhokseumawe. Saya bisa mendapatkan uang di acara pertama (sekaligus ilmu juga) dan mendapatkan ilmu di acara kedua. Tapi keduanya saya korbankan demi FAMe, meski di sana ternyata saya mendapatkan ujian kesabaran.
Saya berpikir, betapa susahnya membangun budaya intelektual di Aceh. Membuat pelatihan dan seminar gratis saya tidak ada pesertanya, apalagi harus membayar.
Saya jadi teringat even Borobudur Writers and Cultural Festival 2018 yang baru saja saya ikuti pada 21 - 25 November. Peserta selalu penuh untuk semua acara. Mendapatkan kesempatan bertanya pun sulit. Saya hanya mendapatkan kesempatan satu kali ketika bertanya kepada sastrawan Martin Aleida.
Ilmu dan pengalaman itu mahal. Tapi terkadang, yang mahal dan langka pun orang tidak menghargainya.[]