Wartawan di daerah seperti di Lhokseumawe dan Aceh Utara, boleh dibilang sebagai wartawan gado-gado yang meliput berbagai isu. Tidak ada speaialisasi. Setiap hari meliput isu politik, ekonomi, keamanan, olahraga, bisnis, termasuk isu tentang pertambangan. Beberapa isu itu membutuhkan disiplin ilmu yang sangat khusus, tetapi wartawan di daerah harus menguasai semaunya dan itu sangat tidak mungkin.
Akhirnya, banyak berita Yang mengandung kelemahan. Ketika meliput isu ekonomi, pihak Bank Indonesia Cabang Lhokseumawe pernah menyebut NPL, misalnya. Namun tidak semua paham apa itu NPL atau Non Perfoming Loan.
Demikian juga dengan isu minyak dan gas, masih banyak yang belum paham. Padahal sebagai daerah penghasil migas, wartawan harus paham benar bagaimana meliput isu-isu sektor migas.
Pertimbangan itulah yang mendasari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe untuk terus menggelar pelatihan terhadap jurnalis dari berbagai daerah tentang isu migas. Kali ini pelatihan digelar di Hotel Lido Graha Lhokseumawe, pada Sabtu 29 Desember 2018.
Para peserta adalah jurnalis media cetak dan elektronik dari Aceh Timur, Langsa, Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Bireuen. Materi disampaikan Afrul Wahyuni dari Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), sebuah lembaga yang hanya ada di Aceh, semacam SKK Migas. Sementara tentang etika peliputan isu migas disampaikan Fira Abdurrahman dari AJI Jakarta.
Ketua AJI Lhokseumawe, Agustiar Ismail, menyebutkan kegiatan tersebut didukung oleh SKK Migas, Pertamina Hulu Energi, dan BPMA. “Ini sudah menjadi agenda rutin untuk memperkuat pemahaman jurnalis dalam meliput isu migas di Aceh,” tandas Agustiar.[]