through two-way discussion is a common sight, it has happened in many places and various cities. Participants from all walks of life heard the exposure of the usual sources as part of
or a "senior" in Steemit or those who respected the
activities. After that, there are some participants who ask about various things and then there is a long discussion until the event ends. Then close with a photo together.
At the Pojok Steemit or Steemit Corner, the gate of Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, we do @ promo-steem activities in different ways. And it is the idea that invites each participant to read poetry. Discussion flows without formality, without moderator or resource person. Everyone is a moderator and everyone is a resource person. The topics we discussed were not just Steemit, but current issues flowed smoothly, though the main discussion remained Steemit, Steem, Steem Dollar, cryptocurrency, and poetry—of course.
For a casual but productive and creative event, Taman Ismail Marzuki is a great place to stay. The location is the center of art activities and gathering place of artists from various regions in Indonesia. Here also I met the poet Din Saja after 24 years. I used to go to Banda Aceh, where Din Alay lived, but we never met. Communication is only occasional through social media.
This is my story with Din Saja in the Steemit Corner, Taman Ismail Marzuki, Jakarta:
https://steemit.com/indonesia/@ayijufridar/meet-the-poet-din-saja-after-24-years-or-bersua-sang-penyair-din-saja-setelah-24-tahun-or
Steemit's Corner is a point on the corner of Taman Ismail Marzuki gate of the gate of Steemians of Indonesia Steemit Community (KSI) Chapter Jakarta such as ,
,
,
,
,
,
,
, and many others. Steemit Corner is easily recognizable because it is located on the corner and traders there use red rimless cap (kupiah). In addition to the Steemit Corner, the other @ promo-steem activity center in Jakarta is Sembilan Cangkir in Kalibata City. If I go to Jakarta, I always take myself to these two locations.
That night, the action of poetry reading at least invited the attention of the people who gathered in front of the TIM gate. They are not the Steemians, but in this place, many new born Steemians because of the existence of the Steemit Corner. Moreover, when we unfurled the "flag" of Steemit, the action was quite inviting (this article should be titled "When the Flag of Steemit Flies in Taman Ismail Marzuki").
We discuss the current conditions in Steemit and the development of cryptocurrency, the latest content, tags, community and not yet a source of strength, blockchain, and other immediate issues. I actually left a lot of information because lately have been rarely read posts and articles about cryptocurrency because busy with the main job. I have to make time to catch up or ask with other Steemians friends about the current cryptocurrency market.
One of the topics in @ promo-steem this time is the use of tags in the Indonesian language, as popularized "steemit-budaya". This is part of introducing the language and activities of Indonesian Steemians to the world. As far as content is concerned, we agree to use the Indonesian tag instead of an issue.
through poetry arises because
brings his book of poems entitled Lagu Cinta Para Pendosa. There is no poem about Steem in it, but there is a lot of love there, as well as longings and memories. And it makes
more different and more colorful.[]
Promo Steem Melalui Puisi di Pojok Steemit
Melakukan melalui diskusi dua arah adalah pemandangan yang biasa, sudah sering terjadi di berbagai tempat dan berbagai kota. Para peserta dari berbagai kalangan, mendengar pemaparan dari narasumber yang biasa adalah bagian dari
atau seorang “senior” di Steemit atau mereka yang respek terhadap kegiatan
. Setelah itu, ada beberapa peserta yang bertanya tentang berbagai hal dan kemudian terjadi diskusi panjang sampai acara berakhir. Lalu ditutup dengan foto bersama.
Di Pojok Steemit, pelataran gerbang Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, kami melakukan kegiatan dengan cara berbeda. Dan itu adalah gagasan
yang mengajak setiap peserta membaca puisi. Diskusi mengalir tanpa formalitas, tanpa moderator atau narasumber. Semua orang adalah moderator dan semua orang menjadi narasumber. Topik yang kami bahas pun bukan hanya Steemit, tetapi berbagai isu terkini yang mengalir lancar, meski diskusi utama tetap Steemit, Steem, Steem Dollar, cryptocurrency, dan puisi—tentu saja.
Untuk acara santai tetapi produktif dan kreatif, Taman Ismail Marzuki adalah tempat yang cocok. Lokasi tersebut merupakan pusat kegiatan seni dan tempat berkumpul para seniman dari berbagai daerah di Indonesia. Di sini juga saya bertemu dengan penyair Din Saja setelah 24 tahun. Saya sering ke Banda Aceh, tempat Din Saja bermukim, tetapi kami tidak pernah bertemu. Komunikasi hanya sesekali melalui media sosial.
Ini kisah saya bersama Din Saja di Pojok Steemit, Taman Ismail Marzuki, Jakarta:
https://steemit.com/indonesia/@ayijufridar/meet-the-poet-din-saja-after-24-years-or-bersua-sang-penyair-din-saja-setelah-24-tahun-or
Pojok Steemit adalah sebuah titik di sudut pelataran gerbang Taman Ismail Marzuki yang menjadi lokasi tetap Steemians dari Komunitas Steemit Indonesia (KSI) Chapter Jakarta seperti ,
,
,
,
,
,
,
, dan banyak yang lain. Pojok Steemit mudah dikenali karena terletak di sudut dan pedagang di sana menggunakan kupiah merah. Selain di Pojok Steemit, pusat kegiatan
lainnya di Jakarta adalah Cangkir Sembilan di Kalibata City. Kalau ke Jakarta, saya selalu sempatkan diri ke dua lokasi tersebut.
Malam itu, aksi pembacaan puisi setidaknya mengundang perhatian orang-orang yang mengumpul di depan gerbang TIM. Mereka bukan Steemians, tetapi di tempat ini, banyak lahir Steemians baru karena keberadaan Pojok Steemit. Apalagi, ketika kami membentangkan “bendera” Steemit, aksi tersebut cukup mengundang perhatian (seharusnya, artikel ini berjudul “Ketika Bendera Steemit Berkibar di Taman Ismail Marzuki”).
Kami membahas kondisi kekinian di Steemit dan perkembangan cryptocurrency, konten terbaru, tag, komunitas dan belum menjadi sumber kekuatan, blockchain, dan isu-isu lainnya yang seketika terlintas. Saya justru banyak tertinggal informasi karena belakangan sudah agak jarang membaca postingan dan artikel tentang cryptocurrency karena sibuk dengan pekerjaan utama. Saya harus menyediakan waktu khusus untuk mengejar ketertinggalan atau bertanya dengan sahabat Steemians lain tentang pasar cryptocurrency terkini.
Salah satu topik khusus dalam kali ini adalah masalah penggunaan tag dalam bahasa Indonesia, seperti yang dipopulerkan “steemit-budaya”. Ini merupakan bagian dari memperkenalkan bahasa dan kegiatan Steemians Indonesia kepada dunia. Sejauh relevan dengan konten, kami sepakat menggunakan tag bahasa Indonesia bukan sebuah persoalan.
melalui puisi muncul karena
membawa buku kumpulan puisinya yang berjudul Lagu Cinta Para Pendosa. Tidak ada puisi tentang Steem di dalamnya, tetapi ada banyak cinta di sana, juga kerinduan dan kenangan. Dan semua itu membuat
menjadi lebih berbeda dan lebih berwarna.[]