image by google
IND
Tidak berapa lama setelah terjalin ikatan hubungan antara aceh dan belanda, datang pula ke banda aceh utusan inggris di bawah pimpinan Sir James Lancaster dengan rombongannya yang terdiri dari 3 (tiga) buah kapal, yaitu Dragon, Hector dan Ascention. Waktu berlabuh di pelabuhan aceh , mereka melihat banyak kapal yang datang dari berbagai negeri berlabuh di banda aceh.
Setelah diadakan pertukaran utusan antara istana dan utusan inggris yang masih berada di kapal, pada hari ketiga delegasi Lancaster diterima menghadap raja. Delegasi Lancaster memperoleh penghormatan yang cukup wajar. Karena mereka akan mempersembahkan surat Ratu Inggtis kepada “His Mayesty King Of Acheen And Sumatera”, istilah mereka.
Lancaster menghadap Sultan dengan 30 orang delegasi. Selama mereka di banda aceh telah diberikan penghormatan . di antaranya adalah jamuan makan kenegaraan, malam kesenian, dan sebagainnya. Sir james lancaster menyatakan bahwa misinya bermaksud membangun perdamaian dan persahabatan antara yang dipertuannya Ratu Inggris dan kakandanya yang dicintai, Raja Aceh yang besar dan perkasa.
Hasil kunjungan delegasi Lancaster baik sekali, antara lain diikatnya hubugan diplomatik dan hubungan dagang antara dua kerajaan, diadakan surat-menyurat lanjutan antara Ratu Inggris dan Sultan Aceh, dalam surat-surat itu dinyatakan maksud baik kedua belah pihak untuk tetap berhubungan baik dan bermuhibah, di samping sama-sama mengakui keberadaan satu sama lain.
Pada tanggal 22 April 1891, dibuatlah sumatera Tractat (perjanjian) yang ditandatangani oleh Sultan Jauhar Alam dan Raffles atas nama kerajaan Inggris. Surat tersebut berintikan bahwa aceh bersedia memberi kesempatan dagang bagi inggris, sedangkan inggris menjamin kemerdekaan aceh selamanya dan akan melindunginya dari serangan siapapun
Traktat itu mengikat bahwa kedua belah pihak akan bersahabat sepanjang zaman dan tidak akan saling membantu musuh-musuh dari keduannya
ENG
image by google
Not long after the relationship was established between aceh and dutch, also came to banda aceh English envoy under the leadership of Sir James Lancaster with his entourage consisting of 3 (three) ships, namely Dragon, Hector and Ascention. Time anchored in the port of Aceh, they saw many ships coming from various countries anchored in banda aceh.
After a delegation exchanged between the palace and the English envoys who were still on board, on the third day the Lancaster delegation was welcomed to the king. The Lancaster delegation earned a fairly reasonable respect. Because they will present the Queen of England's letter to "His Mayesty King Of Acheen And Sumatera", their term.
Lancaster faces the Sultan with 30 delegates. As long as they are in banda aceh have been given the honor. among them are state banquets, evening arts, and so on. Sir James Lancaster stated that his mission was to build peace and friendship between the Queen of England and his beloved brother, the mighty Aceh King.
The results of the Lancaster delegation's visit were excellent, among others the tie-up of diplomatic relations and trade relations between the two kingdoms, continued correspondence between the Queen of England and the Sultan of Aceh, in the letters it stated the good intentions of both parties to keep in touch and goodwill, at side of equally acknowledge the existence of each other.
On April 22, 1891, a Sumatran Tractat (agreement) was signed by Sultan Jauhar Alam and Raffles in the name of the British Empire. The letter argues that aceh is willing to provide trade opportunities for the English, while the British guarantee the independence of Aceh forever and will protect it from any attack
The treaty binds that both sides will be friendly throughout the ages and will not help each other's enemies