“Kemarin saya sudah tarik lagi, Bang!” ujar dengan bangga. Meskipun nilai tukar mata uang digital yang berlaku di Steemit, Steem Dollars (SBD), terhadap Rupiah masih sangat rendah.
Di lain waktu, “Kali ini kami panen!” tak kurang bangga yang keluar dari sambil memperlihatkan akun miliknya yang dibanjiri vote entah dari mana saja.
Pada kesempatan lain, berujar kepada saya, “Jika mau melihat orang sukses di Steemit Barsela, maka Dani dan Agus dua di antaranya!”
Saya membenarkan. Begitu singkat perjalanan yang telah dilalui. Tak bisa juga disebut bahwa saya memiliki andil besar terhadap perkembangan ini. Saya akui, kami belajar dari malam gelap sampai remang senja. Dari situ kami tahu celah mana yang mesti disobek menjadi kue terenak dan menjadi minuman segar pelepas dahaga. Maka, saat Dani maupun Agus berkata mereka telah mencairkan ‘sedikit’ uang jajan dari Steemit, saya turut bangga walaupun nilai tukar belum sampai pada titik nadir kebahagiaan.
Lima bulan hampir mengakhiri proses komunitas kami. Waktu yang tanpa basa-basi menghadirkan dua cerita ini. Saya ingin membagikan secuil harapan dan juga canda tawa mereka. Mungkin tidak layak tetapi saya pikir inilah inspirasi yang akan engkau kecap sebagai pelipur lara atau pemantik semangat untuk menghadirkan konten – kembali – di Steemit.
Sedikit saja engkau berusaha maka hasil tidak pernah mengelabuinya. Dani dan Agus mungkin hampir menyerah saat tulisan mereka tidak ada voting tetapi saya pernah berujar, “Suatu saat kamu akan mendapat sesuatu!”
Proses yang singkat, terbahak di dalamnya, tersedu di sudut paling gelap dan keduanya memberikan kisah tersendiri bagi saya untuk dibagikan kepada Steemian Barsela – maupun untuk engkau yang jauh di sana. Dani paling kencang mengeratkan pacuan kudanya di landasan berkerikil. Kadang terjatuh, di kesempatan lain melaju dengan gesitnya. Manakala ia terjatuh, , salah seorang pembawa cambuk untuk melucutinya agar kembali bangkit. Berbeda dengan Agus, Dani bukanlah orang yang tahu soal jurnalistik atau bahkan dunia literasi yang lebih luas. Agus yang berangkat dari wartawan tidak begitu keruh dalam menyampaikan kata. Dani berbeda, semangatnya kadang meluap tinggi, kadang pula ia lesu tak ada ampunan.
Dani berangkat dari tiada tahu soal apa dan mengapa. Mungkin hal ini yang membuat saya merinding. Di awal akun miliknya aktif, Dani sering berkesah tentang apa yang mesti ditulis karena dirinya bukan seseorang dengan titel doktor maupun profesor. Cerita dirinya yang tak tahu teori bahkan lebih baik di pandangan saya daripada mereka yang cuma menjadikan teori sebagai mainan. Tiap minggu ikut kelas teori tetapi tidak ada karya yang bisa dibanggakan dengan itu. Tetapi, Dani hadir ditengah kemelut yang selalu membanggakan diri demikian. Tanpa teori, timpang dengan ketidaktahuan, awam segala cara dan hanya memiliki sejumput mimpi-mimpi di siang hari.
“Apa yang kamu rasa, kamu lihat, kamu enggan mengungkapkannya, maka tulislah!” karena dengan itu, saya yakin sekali siapapun akan menjadi sesuatu kelak. Dani mengilhami ucapan saya dengan baik. Jika engkau singgah ke akun Dani mungkin hanya ‘ejekan’ yang diterimanya karena bukanlah tulisan dengan teori tingkat dewa, hanya curahan hati seorang pemuda gagah dengan liputan keseharian maupun kusut hatinya. Namun, jika engkau melihat jumlah voter maka tulisan pemenang karya ilmiah internasional sekalipun jika dipublikasi di Steemit belum tentu mendapatkan hal serupa. Di sinilah saya menyebut, Dani entah siapa menjadi apa dengan usaha dan sebentar bergadang di saat orang lain telah tertidur.
“Kamu tidak perlu membawa buku teks jika tidak sanggup. Kamu juga tidak perlu ke kelas menulis jika malu dengan status. Bacalah tiap waktu untuk menambah perbendaharaan kata maupun mencuri gaya menulis orang lain. Maka, kamu akan menemukan cara tersendiri!”
Maka mulailah Dani bercerita. Perlahan tetapi gesit mencapai puncak. Saya akui kembali bahwa di Steemit tidak hanya pembatasan teori menulis tetapi memiliki strategi yang hebat untuk mencapai puncak. Jika engkau menulis di blog barangkali kembali kepada viewer dan jumlah klik iklan tayang. Di Steemit, engkau mau tidak mau harus mengandalkan ‘pendukung’ untuk dapat mencairkan lembaran biru atau merah dalam mata uang kita yang rendah.
“Tulislah yang baik, baca ulang sebelum tayang, itu adalah modal kamu!” ujar saya entah ke sekian kali. Saya tahu, Dani memahami dengan baik di mana tulisannya makin halus, makin memainkan peran, makin cepat menyampaikan pesan. Engkau juga akan percaya bahwa menulis itu bukanlah sebatas teori tetapi seberapa banyak waktu dibuang untuk merangkai kata. Teori akan kamu simpan baik-baik saat menuangkan ide. Tetapi, ide tidak akan muncul saat kamu belajar teori!
Dani tak lain sosok yang telah mudah mendapatkan ide. Tentu saja karena sering menulis, memiliki ambisi kuat dalam menaikkan reputasi maupun tabungannya di Steemit. Tidak semua orang mampu melakukan hal demikian – di mana batu sandungan Dani tidak saya ceritakan di sini. Dani menjadi sosok yang membanggakan di KSI Chapter Barsela. Dani tidak pernah ‘permisi’ dengan waktu tetapi dari keluguan dirinya, ia mampu memanajemen waktu dengan baik.
Sahabat diskusi yang membuat Dani selalu kalah tak lain adalah Agus. Saya sudah sebutkan bahwa Agus telah memiliki ‘rasa’ dalam menulis karena posisinya sebagai wartawan. Agus memuncaki reputasi dan memanen ‘recehan’ dari Steemit dengan caranya tersendiri. Jika Dani masih terbeban dengan cara dan apa maupun bagaimana menulis yang baik, Agus telah melupakan hal demikian.
Agus bisa saya sebut sebagai sosok Steemian di Barsela yang memiliki strategi lebih peka daripada yang lain. Tentu usaha lebih besar dalam menerapkan trik-trik khusus ini. Agus salah seorang yang tak pernah jemu dalam menulis dan paling patuh terhadap apa yang saya sebut, “Tulislah minimal 500 kata,”
Di awal, Agus tak pernah mengucap salam perpisahan kepada akun miliknya yang sepi voter tetapi dirinya memulai cara berbeda. Komunitas online menjadi batu loncatan Agus dalam memulai karirnya sebagai pemilik vote terbesar di antara kami – akhir-akhir ini. Saya ikut terharu saat tahu dan melihat perubahan ini. Dikejar berita untuk tayang, sehari satu tulisan di Steemit tentu tidak mudah. Target demi target tercapai dengan sendirinya manakala usaha itu telah berkah.
Agus memberikan kesejukan soal sepi vote di antara Steemian di KSI Chapter Barsela. Tentu, saya tidak bisa membagikan trik jitu Agus di sini. Jika engkau mau tahu, gabunglah bersama kami di senja hampir menutup hari. Karena strategi Agus, juga Dicky maupun Deny dan Dani berangkat dari diskusi panjang, tak usai, penuh tekanan, dan godaan terhadap Cheetah. Tidak semua bisa dilewati dengan mudah dan di antara kita baru Agus yang mencapai puncak itu.
Jika engkau menulis sangat baik dan bagus, bahkan telah lama di Steemit namun reputasi rendah, maka belajarlah kepada Agus. Tangga yang dinaiki Agus lebih mulus daripada tangga yang engkau naiki. Engkau menulis tiap hari tetapi reputasi tak pernah naik, Agus juga menulis tiap hari dan reputasinya melesat tajam. Engkau bertanya, saya tidak mungkin menjawab karena berangkat dari strategi yang dimiliki Agus. Dalam waktu singkat, akun Agus mampu menyalip akun lain yang telah lama menulis di Barsela.
Bukankah ini sebuah prestasi yang cukup membanggakan? Di komunitas kami yang belum ada sosok inspirasi di Steemit, hal ini sangat membanggakan. Saya tidak mau berhenti menceritakan sosok-sosok lain dari KSI Chapter Barsela di kemudian hari. Keberadaan Agus dengan reputasi, nilai vote tinggi tidak hanya penikmat saja tetapi sebuah pembelajaran bagi kamu yang ingin mencapai puncak.
“Paling bisa beli baju baru lebaran kali ini!” ujar Agus yang diiyakan oleh Dani. Engkau yang telah menulis dengan bagus dan baik sesuai aturan main kelas menulis, sudahkah bisa melakukan hal demikian?
Inilah yang saya sebut apresiasi dari usaha. Saya bangga, tentu saja. Meskipun, selama ini saya terlalu ‘cerewet’ soal menulis dan konten untuk dipublikasikan. Namun, engkau wajib tahu, dari ini pula suatu waktu dipahami bahwa akan benar semuanya. Dani mungkin akan menggerak-gerakkan smartphonenya dengan Mobile Legends jika semangat telah pudar. Agus barangkali akan fokus saja pada liputan untuk media yang memperkerjakannya.
“Tiada yang tahu, suatu saat kamu akan diundang ke mana dan oleh siapa,” saya hanya mengajarkan mimpi tetapi jauh di lubuk hati, saya tidak tahu soal ini. Selama ini, saya hanya yakin dari menulis saya bisa ke mana-mana dengan mudah dan barangkali ini juga akan berlaku bagi Steemian di KSI Chapter Barsela, tidak hanya Dani maupun Agus.
Dua sahabat di Barsela ini, inspirasi yang bisa engkau petik berkahnya. Maka, mulailah hari ini, siapkan waktu dan amunisi, karena saat itu tiba engkau akan mendapatkan kepuasan seperti keduanya. Jika masih permisi dengan waktu, engkau akan terus begitu sampai waktu tidak pernah lagi kembali.