Beberapa hari yang lalu rumah saya penuh dengan ponaan. Mereka pulang berlebaran ke rumah nenek hingga lebaran ke lima.
Salah seorangnya saya hafal sekali suka sekali sanger, maka sayapun mengajaknya. Tawaran tersebut tentu ia sambut dengan antusias dan penuh suka cita. Berdua saja kami menuju warung kopi dan menikmati sanger masing-masing dengan cerita ringan tentang kesehariannya.
Sampai dirumah, ternyata kepergian kami di ketahui oleh si bungsu. Tanpa ampun iapun menghujat. "Abu anak orang diaajak minum sanger, anak sendiri tak dibawa". Apalah daya saya mendengar hujatan itu yang keluar dari mulut anak SD kelas satu.
Maka sayapun mengazamkan akan membawa mereka pada waktu berikutnya dan pagi ini adalah waktu bagi saya melunaskan janji.
Bertiga saja kami mengendarai Vixion menyusuri pagi yang masih menyisakan dingin. Setelah melewati beberapa kandidat warung kopi akhirnya kami singgah di Taufik kopi.
Tak lama tiga gelas SP atau sanger pancung menyambangi meja kami. Si bungsu tampak menikmati sekali, saya puas dunia akhirat.
Oya buat yang diluar Aceh mungkin kurang tahu tentang sanger. Sanger adalah racikan kopi yang susunya pancung. Jadi susu hanya mengkeruhkan kopi dan menyumbangkan sedikit rasa manis.
Konon kabarnya sanger lahir dari istilah sama-sama ngerti. Dahulu di Aceh kopi susu adalah penghuni kasta tertinggi dari minuman kopi. Tentu harganya pun menjadi premium. Mahasiswa yang keadaan dompet pas-pasan tergiur merasakan kasta tertinggi tersebut. Atas kemurahan pemilik warung maka kopi ditambahkan susu sedikit, yang penting keruh, ya itulah filosofi sama-sama ngerti tentu dengan harga jauh dibawah kopi susu.
Moment nyanger ini sebenarnya sering kami lakukan. Saya menganggapnya sebagai "quality time" versi saya. Saya ingin hanya bersama mereka. Bahkan ketika sang istri ingin ikut pun saya tepis sambil menjawab, maaf ini urusan laki-laki hehehehe.
Ok kawan makasih sudah singgah dan membaca tulisan saya yang sederhana ini.