INI MALAM KETIKA mendung bergelayut. Hujan hendak jatuh. Tapi batal. Entah kenapa batal, aku tak seberapa tahu. Yang kutahu, malam kian sepi. Mendung termanggut-manggut. Angin berhembus dari belakang kudukku. Bebuluan yang ada di sana menegak dengan sendirinya, tapi benarkah angin barusan membawa serta seekor hantu? Lagi-lagi aku tak seberapa tahu.
Namun kemudian benarlah adanya. Hantu telah di depan mata. Punya kelamin perempuan. Kutaksir begitu sebab di kepalanya rambut tumbuh panjang, memburai hingga ke punggungnya. Entah ini hantu baik atau tidak, aku tak mau peduli. Yang jelas ia mengikik hebat dengan suara lolongannya yang khas saat pertama memperlihatkan wujudnya padaku. Lolongannya bikin bergidik juga, tapi apa boleh buat, aku memang pemberani sejak belum lahir ke dunia. Setidaknya begitu cerita ibuku dulu ketika ia menyuruhku menimba air di sumur belakang rumah pada malam-malam penuh gelap. Itu sewaktu aku masih kecil, kira-kira saat masih berumur tujuh atau delapan tahun.
Hujan yang tadi batal turun kini sudah mulai mengguyur. Aku pindah, berteduh di depan sebuah ruko yang sedang tertidur sedari lepas maghrib tadi. Hantu ikutan pindah. Ikutan berteduh di tempat yang sama denganku. Aku senang bukan kepalang. Setidaknya aku punya teman pada malam, yang karena tengah dikepung hujan, sepinya minta ampun.
Iseng saja, kuajak hantu perempuan itu bicara. Pertama sekadar basa basi biasa. Lalu entah bagaimana, kami langsung akrab satu sama lain, seperti dua teman lama yang berjumpa lagi setelah pisah belasan tahun lamanya. Karena di bawah ruko tempat berteduh ini cuma ada kami berdua. Kami jadi tak seberapa sungkan untuk sedikit berhimpitan badan manakala angin berhembus kencang hingga tempias hujan menerpa pelipisku, juga membasahi baju seragam para hantu yang dipakainya.
Lengan kananku mepet ke lengan kirinya. Di sentuhan pertama, aku sempat minta maaf kalau sudah sedikit lancang. Ia kata, jangan sungkan sambil menyungging seulas senyum hingga menampakkan sepasang taringnya. Tak ingin menyinggung perasaannya, kutanya, kenapa gingsulnya sepanjang itu? Ia lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaanku. Lalu diam sejenak. Lalu mengikik dengan lolongannya yang khas dan membuatku bergidik untuk kali kedua.
"Ini bukan gingsul. Tapi taring!" Jawabnya singkat dengan mimik malu-malu persis seperti seorang gadis yang sedang ketiban gombal cowok idaman.
Agak semaput juga aku melihat pipinya yang kini merona. Tapi langsung tersadar ketika tanpa sengaja kulihat ke bawah dan tampak ia berdiri dengan mengambang begitu saja, tanpa berpijak di atas tanah. "Oya. Bukankah dia cuma seekor hantu," tegasku dalam hati.
"Jadi hantu itu berat ya?" Tanyaku padanya.
"Maksudnya?"
"Mengambang tanpa berpijak tanah begitu. Apa tidak pegal itu badanmu?"
"Oh. Ini ya maksudmu?" Tanyanya balik sambil mengangkat ujung bawah baju putih terusannya hingga menampakkan sepasang paha mulus, berikut celana dalamnya. Entah karena cahaya bohlam di langit-langit teras ruko ini yang temaram atau entah karena penglihatanku yang rada buram. Kutemukan celana dalam sewarna susu hantu perempuan ini tampak demikian kusam.
Mungkin kusam karena telah lama tak diganti. Mungkin lama tak diganti sebab ia hanya punya satu celana dalam saja. Lalu untuk menyiasatinya, ia bolak-balik celana dalam itu sehari sekali, sebagaimana yang sering dilakukan orang ketika mendengar lagu dari kaset tape recorder. Selesai lagu di Side A balik ke Side B, begitu seterusnya. Kupikir, cara kerja celana dalamnya itu sama halnya dengan kaset tape recorder, kalau tidak mana mungkin ia tampak sekusam itu.
Dan ketika perkiraanku hendak beranjak ke perandaian yang lain-lain lagi, segera saja aku berpaling ke arah jalan. Sekadar mengalihkan pandangan biar sama seperti di adegan-adegan film roman-religi, ketika seorang cowok alim kena goda dengan pemandangan keindahan dunia dari tubuh lawan jenis yang bukan muhrimnya. Keindahan yang bisa saja menjerumuskannya dalam neraka.
Hujan masih turun. Kini telah lebih lebat lagi kadar guyurannya. Air dari talangan ruko berkecipak di aspal, angin berhembus kencang, petir mulai unjuk gigi. Aku dan si hantu perempuan sudah banyak diam. Bajunya sudah seperti semula, sudah tak terangkat lagi, kecuali lengan kirinya makin ketat menempel di lengan kananku.
"Bukankah seekor hantu dilarang birahi pada manusia?" Tanyaku spontan, yang kemudian kusesali, tapi apa boleh buat ia sudah kadung mendengarnya juga.
"Kau kira aku horny?" Ia balik bertanya.
"Aku tak mengira apa-apa. Tapi dengus nafasmu cukuplah jadi bukti."
"Bagaimana kalau iya aku birahi? Lalu memperkosamu di sini hingga kau mati. Lalu kau berubah jadi hantu, sama sepertiku."
"Mau perkosa sekarang?"
"Iya."
"Boleh aku bersiap-siap dulu?"
"Bersiap-siap? Memangnya kamu mau siapin apa?"
"Setidaknya kondom."
"Kok kondom?"
"Aku takut kamu hamil sesudah ini. Kau melahirkan, lalu anakmu nanti mati kaget pas tahu kalau ayahnya itu seorang manusia, bukan seekor hantu seperti emaknya."
Si hantu perempuan tampak sudah tak sabaran. Ia geregetan. Aku gemetaran. Tak ada cara lain yang bisa kulakukan kecuali mengulur waktu. Kakiku mati rasa. Sudah tak tahu hendak bergerak kemana. Kini aku mengerti apa yang dikata ibu dulu hanyalah bohong belaka. Sepulangan dari sini, sesampai di rumah aku bertekad meminta pertanggungjawaban ibu, tapi apakah aku bisa pulang sekarang ini juga?
"Kapan kau terakhir bercinta dengan manusia?" Tanyaku lagi padanya sekadar menutup kegugupan yang sedang kualami.
"Aku masih perawan. Semua hantu perempuan masih perawan."
"Benarkah?"
"Kamu boleh buktikan sekarang."
Ia menantang. Aku keringatan. Punggungku basah. Peluh dingin mengucur dari dahiku membulir di pipi, lalu turun deras hingga ke batang leherku. Aku tercekat. Seperti tak tahu lagi harus kukata apa, tiba-tiba saja aku bilang, "Kau kurang sexy. Lagi pun, kau tak seberapa cantik. Besok-besok operasi plastik dulu, tanam silikon di buah dadamu. Dan jangan lupa pesan juga sepasang kaki palsu di toko online kalau kau malu beli langsung di toko-toko seputaran Peunayong atau Seutui atau Neusu. Kalau sudah lengkap seperti yang kubilang ini, baru kita bertemu lagi. Kita bercinta sekehendak hatimu nanti."
Lepas kukatakan padanya seperti itu, kakiku yang tadinya mati rasa jadi hidup kembali. Seperti dituntun oleh hantu yang lain, seketika itu juga aku beranjak dari teras ruko tempat kami berteduh dari guyur hujan. Kutinggalkan ia di sana seorang diri, kuterobos hujan lebat tanpa sekali pun menoleh padanya lagi. Hantu perempuan itu terkesima. Ia membeku untuk beberapa saat. Tapi sekonyong-konyong ia memapas langkahku. Mau tak mau aku harus berhenti untuk berdiri di tengah guyur hujan, berhadapan dengannya.
Matanya sembab. Aku tak ambil peduli apakah ia menangis gara-gara yang kukatakan tadi. "Apa lagi?" Tanyaku padanya dengan intonasi sedikit agak tinggi. Ia sesunggukan. Hujan tak hanya turun dari langit. Tapi dari kelopak matanya juga. Aku jadi iba, tapi tak hendak meniru adegan film roman dengan memeluknya tiba-tiba. Kubiarkan ia sesunggukan barang sebentar, lagi kuulang pertanyaanku tadi.
"Aku tahu diri. Aku hantu jelek. Tak pantas bercinta dengan siapa pun. Bahkan kameng landok saja pernah menolakku seperti ini. Aku bukan menangis gara-gara penolakanmu tadi. Tapi terus terang aku terharu. Sudah lama kucari-cari petunjuk di mana kiranya aku bisa melakukan operasi plastik. Nah, pas kamu bilang itu tadi, aku langsung yakin kamulah petunjuk awal yang bisa membawaku ke tempat operasi plastik itu," ujarnya.
Kini giliran aku terkesima. Tak dinyana aku jadi ikutan terharu atas kegigihannya. Pada waktu bersamaan timbul rasa benci pada kameng landok yang menolak bercinta dengan hantu perempuan ini. Yang cantiknya terletak di keseluruhan buruk rupanya yang tak terkira. Tak ingin mengecewakannya untuk kedua kali, kukata padanya, ia bisa melakukan operasi plastik pada seorang dokter di Jakarta. Yaitu dokter yang penyanyi itu, yang punya hobi potret sana sini bernama Tompi. Kusuruh follow akun instagram si dokter agar memudahkannya melakukan komunikasi awal sebelum pergi ke Jakarta.
"Dokternya ganteng juga ya," komentarnya setelah melihat foto-foto di akun ig Tompi.
"Cukup ganteng. Akan sangat cocok denganmu setelah kau berhasil operasi plastik nanti."
"Memangnya, kalau sekarang tidak cocok ya?"
"Ini cocok kau tanyakan pada kameng landok yang pernah menolakmu bercinta. Ia pasti punya kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanmu ini."
Hujan belum juga berhenti. Aku kuyup sedari tadi. Sekujur gigil. Petir dan kilat menyambar-nyambar langit kian hebat. Angin berhenti. Ini sudah dini hari. Sedih hati hantu perempuan di hadapanku ini sudah berganti girang bukan kepalang. Katanya, ia hendak pulang. Tapi sebagai ucapan terima kasih untuk informasi yang kuberikan tadi, ia ingin aku menerima sekuncup kecupan. Terserah aku membolehkan di area mana, entah di dahi, di pipi, bibir, atau di bokong pun tak mengapa.
Kutolak pertanda terima kasihnya itu mentah-mentah. "Aku takut tergores gingsulmu," kataku. "Ini taring, tolol!"[]