Bagi yang tak punya skill di bidang fotografi, videografi, desain grafis, ngegame, bikin meme atau bikin kue, memosting tulisan adalah satu cara bagaimana mengelola akun steemit hingga bisa menghasilkan pundi-pundi harta digital yang bisa diuangkan kapan saja. Tapi beberapa teman steemian-steemiawati sering mengaku mandeg gara-gara tak ada ide. Perkara tak ada ide mau menulis apa, masih saja jadi salah satu trending topic yang dibahas di antara beberapa steemiawan-steemiawati yang kukenal akhir-akhir ini.
Soalan ide, aku pernah menulis seperti ini: Tak Ada Ide Adalah Ide. Itu artikel dua bulan lewat. Jujura saja, itu kutulis ketika aku sedang merasa tak ada ide. Apa yang kurasa itulah kemudian kuurai menjadi postingan pada malam yang agak tidak membahagiakan itu. Tak dinyana, banyak respon dari teman-teman pembaca. Aku girang, dan di satu sisi merasa, "Ternyata mengelabui orang banyak bisa sebegini gampang ya?" Bukan kenapa, gara-gara tulisan itu banyak orang mengira aku sudah memberi tips dan trik menulis yang tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya. Padahal; kalau boleh jujur sekali lagi: tulisan itu kutulis sekadar usahaku sendiri mendobrak kebuntuan pikiran yang sedang blank tidak tahu harus menulis apa.
Pada postingan kali ini. Aku tak ingin mengelabui siapa pun. Aku sedang banyak ide. Tiga atau empat hari tidak menulis oleh sebab kesibukan yang lain, cukup membuat pikiranku penuh dengan ide-ide yang muncul tumpang tindih. Semisal ide tentang bagaimana kalau seandainya pikiranku kuubah jadi kandang ayam, rumah rubah, atau sangkar tokek, atau apalah binatang-binatang yang tak sudi dipelihara orang ramai.
Tentu pikiranku akan jadi serupa kebun binatang mini. Sehari-hari aku akan disibukkan dengan pekerjaan seperti membersihkan taik ayam, memberi makan rubah, memandikan tokek, dan lain sebagainya. Kali yang lain ide yang muncul di pikiran berupa; bagaimana kalau aku menjadi seorang pemberi motivasi? Bukankah jejak Mario Teguh belum ada yang ganti di televisi? Lalu motivasi apa?
Dua contoh ide di atas itu belum selesai kupikirkan, lantas datang lagi ide lain seperti keinginan menulis buku-buku populer yang berisi tutorial hidup yang baik dan benar bagi umat manusia. Ketika gambaran besar itu kukerucutkan lagi, buku kumaksud berjudul Tutorial Menghindar Dari Kejaran Debt Collector.
Setelah kuselesaikan buku itu, tak ingin jeda, terus lanjut dengan buku lain berjudul, Macam-macam Penyakit Hati yang Diidap Para Steemiawan dan Steemiawati. Biar bisa bersanding dengan Tere Ciyee Ciee yang dalam setahun bisa menulis tiga belas judul buku plus dua draft novel genre cinta religius, lagi-lagi aku tak akan langsung ambil cuti setelah buku tentang petingkah para aktivis steemit itu luncur di pasaran. Buku-buku lain akan menyusul kutulis yang judulnya belum bisa kukasih bocoran kepada khalayak ramai.
Dari kelit kelindan ide yang bermunculan di pikiran itu, satu ide yang paling menggoyahkan iman kepenulisanku di steemit hingga detik ini adalah keinginan menyicil isi buku yang judulnya sudah kupatri mati dalam hati: Menjadi Aceh dan Cara-cara Menghabiskan Uang APBA Seorang Diri.
Lantas apakah yang ingin kuperbuat dengan ide-ide tersebut? Di sini, akhirnya aku sadar, bahwa ide itu bisa jatuh dari langit kapan pun jua. Hanya saja yang jadi kendala--melulu akan jadi kendala--adalah kapan akan kumulai menuliskannya? Malam ini? Tidak. Aku ngantuk. Baiknya lusa saja, sebab esok hari pun tak mungkin, ada undangan minum kopi (biar terdengar kesteemianan kata ajakan minum kopi baiknya dibaca: meet up) oleh beberapa kolega. Demikian. Sampai jumpa esok lusa.