Saya tertarik sekali dengan tulisan yang bertajuk Mengusir Kurator dari Stemian. Mengapa? Karena ada nilai uji, taji dan gaji, hehehe.
Saya ingin sedikit mengulasnya. Siapakah yg disebut kurator? Sudah dijelaskan si panjang lebar, lalu perlukah dia diuji? Tentu saja perlu. Lantas pertanyaan selanjutnya, untuk apa ujian itu? Barangkali untuk mengasah taji dan gaji. Mengapa? Karena dua hal itu adalah semuhrim. Dimana seseorang memiliki taji, gaji pasti mengikuti. Tetapi yg tidak kalah penting adalah untuk menjaga marwah
itu sendiri sesungguhnya, mengapa? Karena
beserta
merupakan sebuah ruang perjumpaan pikiran dan pengalaman. Dimana ruang semacam itu meliputi berbagai macam dimensi. Salah satunya dimensi cinta.
Sementara itu, cinta melahirkan ekspresi dan ekspresi cinta setiap manusia berbeda-beda. Singkatnya, mencintai tak harus memuji bisa juga dengan memaki. Loh kok bisa? Coba saja pacar terkasihmu diambil Dilan. Jangan bilang kau tak kan memaki Dilan atau pacarmu. Omong kosong jika hanya diam saja, munafik!
Dari sini saya menyimpulkan bahwa KL (kitablempap) mengungkapkan rasa cintanya dengan caranya. Sebuah cara yang membuat gaduh para steemian. Padahal saya yakin, para kurator tak tersinggung, baper berat sampai sekarat sama sekali, tetapi akan mengapresiasi baik kerangka pemikiran yang diajukan KL tersebut.
Alasannya sederhana, seorang Kurator itu ibarat lautan samudera, maka konyol nian jika ada anggapan bahwa riak riak kecil mampu mengotorinya apalagi sampai memporak porandakannya. Kecuali menggunakan tongkat Nabi Musa. Toh, KL tak memiliki tongkat itu. Paling-paling dia hanya punya tongkat pemukul anjingnya Chu phe thong atau yang akrab disapa bocah tua nakal.
Dari ulasan KL, yang menggelikan adalah sikap defensif, apatis bahkan mungkin antagonis dari steemian. Loh ada apa gerangan? Bukankah ruang kita ini adalah ruang perjumpaan pikiran dan pengalaman. Lalu apa yang ditakuti? Orang berbagi pikiran dan pengalaman kok dinyinyiri. Aneh bin ajaib saja bagi saya. Terlebih steemit adalah dunia maya.
Sebenarnya saya penasaran dengan para steemian penakut itu, ups, salah. Maaf, para peragu, aduh,....salah juga. Mau bilang penjilat juga nggak pantas. Hmm.... Para apa sajalah. Namun rasa itu saya tenggelamkan ke dasar laut dengan bantuan menteri Susi dan saya kubur dalam-dalam ke perut bumi lewat tangan juru kunci. Karena saya yakin para Kurator itu seperti Subali, guru dari Anoman. Loh kok bisa! Tentu saja. Subali pernah murka pada murid kesayanganya (Anoman) ketika tanpa diperintah Anoman menghadang anak panah yg mengarah pada Subali. Kala itu Subali berkata; Apa kamu kira aku tidak bisa menangkis anak panah itu, Anoman, lantas Anoman menyesal dan memohon ampun pada Subali. Kemurkaan Subali akibat dia merasa direndahkan, diremehkan oleh Anoman.
Dalam hal ini saya membayangkan bagaimana murkanya para Kurator jika mereka mengetahui bahwa ada steemian yg mencoba menangkis sebuah anak panah yg dilesakkan pada mereka. Terlebih anak panah itu adalah panah Pasopati milik Arjuna yg mengantarkan Adipati Karna ke nirwana.
Barangkali sebagai steemian kita tak harus di jalan lurus, sebab membosankan. Bukankah lebih nikmat berjalan melewati ruas-ruas jalan kecil, di terjalnya pasir-bebatuan cadas pegunungan atau melewati pematang-pematang persawahan.
Aduh,....kopi dan tembakau sudah abis, baterai hp pun mulai menipis, kiranya akan saya teruskan nanti selepas mandi keramas.
Oh iya teruntuk para Kurator, jagalah ruang perjumpaan pikiran dan pengalaman ini dari niat kotor supaya terus tumbuh kembang dan tak bakal tumbang walau ditebang menggunakan parang.
Kopi Hitam