Hi steemians. Semoga Anda sehat dan sukses selalu. Kali ini saya akan posting tentang Juara Lomba Inovasi Pembelajaran yang Menginspirasi.
Perhelatan Lomba inovasi pembelajaran (inobel) level madya dan utama sudah berakhir. Ajang lomba insan guru inovatif tersebut melahirkan juara dari berbagai daerah. Karya mereka benar-benar sangat inovatif dan menginspirasi. Menyandang status sebagai finalis saja sudah sangat luar biasa. Apalagi menjadi juara. Itulah yang penulis rasakan selaku salah seorang finalis.
Melihat karya inobel para juara, sangat pantas mereka menyandang status tersebut. Karya inovatif yang mereka tampilkan sangat inovatif, sederhana, dan memiliki kebermanfaatan yang nyata bagi sekolah dan dunia pendidikan. Penampilan saat presentasi juga sangat bagus, tenang, dan sangat menguasai hasil penelitiannya.
Juara I inobel level utama, Arif Darmadiansah misalnya. Dia mengangkan karya inovatif tentang pengembangan mikroskop digital lensa laser tenaga surya. Mikroskop karya Arif ini tidak menggunakan tenaga listrik sehingga sangat cocok diterapkan pada sekolahnya. Sekolah Arif terletak di Kabupaten Alor, NTT dimana tidak memiliki jaringan listrik apalagi internet. Solusi Arif ini sangat bermanfaat bagi praktikum biologi di sekolahnya.
Juara II inobel utama, Mujahidin Agus melakukan inovasi memanfaatkan kaleng bekas dalam pembelajaran geografi. Umumnya kaleng bekas sudah tidak berfungsi lagi bagi pembelajaran karena sudah tergolong sampah. Tetapi di tangan Mujahidin, kaleng bekas tersebut mampu disulap menjadi alat peraga geografi yang sangat membantunya dalam pembelajaran.
Ainun Asmawati, juara II inobel madya mengembangkan model pembelajaran STAD-Transboad dalam pembelajaran Biologi. Ia awalnya mempelajari kelemahan dari model STAD. Kemudian kelemahan tersebut diperbaiki dengan menginovasi sintaks dari model STAD. Hasilnya adalah ia menemukan model STAD-Transboad yang memudahkan siswa dalam mempelajari rekayasa genetika.
Bagaimana dengan penulis? Penulis mengembangkan model ujian offline berbasis Android. Model ujian ini dirancang semirip mungkin dengan Ujian Nasional Berbasis Kemputer. Namun penulis melakukan inovasi menggunakan Android. Mengapa haru Android? Hal ini berdasarkan survey yang penulis lakukan dimana sekitar 98% siswa memiliki Android. Akan tetapi kebijakan sekolah melarang siswa membawa Android ke sekolah. Model ujian ini mampu mengajak siswa untuk terus belajar dan mengerjakan soal dimana saja dan kapan saja.