“Aduh Ma, kepala ‘Indah pening’ saat ban naik di situ (polisi tidur). Jangan lewat situ lagi, Ayah!” desakkan anak saya, saat melintasi jalan Desa Kuta Padang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, yang terdapat banyak gundukan polisi tidur di ruas jalan padat penduduk. Alhasil, saya memutuskan menunda mengantar pesanan teman dan segera kembali menuju lokasi steemians KSI Chapter Barsela berkumpul.
Petang Sabtu (9-6/2018) kemarin, tujuan awal saya, istri, dan anak keluar dari kediaman, berencana menuju lokasi buka puasa bersama (Bukber) di warung Chaplin Jalan Manek Roe, Meulaboh dengan teman-teman steemians Aceh Barat. Kami berangkat dengan penuh ceria, tanpa terpikir suatu kendala.
Setiba dilokasi Bukber, terlihat deretan penganan warna-warni, minuman segar, dan nasi telah berjejer di atas meja. Saya mendekati kursi kosong dengan wajah ceria. Memang awal tiba, saya memulai salam kepada teman yang telah duluan tiba. “Hai Pak Ketua (), Buk Dosen (
). Semuanya lah,” sapa saya, sambil mengarahkan istri dan anak menduduki kursi kosong.
Meskipun ekspresi basa-basi ceria menyapa teman yang duluan tiba, sebenarnya, ‘kebahagian’ itu, seperti bukan fokus kepada mereka, melainkan senang ketika melirik hidangan menu makanan yang telah tersedia di atas meja. “Enak ini!” sambil menanyakan lagi kepada anak saya, “Indah mau apa Nak?” “Jus Pokat mau,” jawabnya. Spontan saya meminta tolong dengan seorang teman untuk menambah pesanan jus alpukat, satu lagi.
“Neunyeeng…!” Melengking panjang sirine tanda berbuka puasa berbunyi. Samar-samar, saya mampu mendengar suara itu, meskipun di warung Chaplin terlalu penuh kebisingan suara orang ramai saling sahut-menyahut (komunikasi). “Uda berbuka, yukk berbuka,” kata saya kepada teman dan kode kepada istri di samping.
Wah enak semua ini! kue risol ini pas rasanya, sangat nikmat. Saya lahap, satu, dua, tiga, dan empat kue dari berbagai jenis. Sementara teman di samping serta depan saya, terlihat macam malu-malu mengunyah satu jenis penganan yang terhidang di depannya. “Dil (Aidil alias ) kenapa gak dimakan onde-onde ini. Enak lho!” lagi celoteh saya, sambil meraih satu penganan berwarna hijau itu. Aidil hanya terbengong melihat saya sambil menggelengkan kepalanya. Akhirnya, saya resmi paling layak memperoleh piagam rekor MURI karena mampu memakan kue paling banyak dari sekian banyak teman di situ.
Tak sampai hanya itu, hidangan nasi ayam penyet yang tersedia di depan saya, langsung saya lahap. Lagi mulut ini mengoceh sambil mengunyah tanpa henti, “Enak bumbunya, terasa pedas dan nikmat.” Satu porsi nasi hampir habis. Tiba-tiba seperti protes, “Wah kok beda-beda wadah (piring) nasinya, ya!?! kalian dalam keranjang terbalut daun pisang, lebih lebar dan lebih enak makannya.” Saya tidak menjawab pertanyaan itu, karena satu porsi nasi milik saya hampir habis. Hanya tersisa tulang ayam goreng saja.
Ehm! Ada satu porsi nasi lagi yang menganggur di depan teman-teman. Dalam hati saya, merasa heran saja, mengapa tak ada seorangpun yang menyentuhnya. Entah karena telah terlalu kenyang, atau karena malu-malu kucing, namun dibelakang meong-meong! Lagi saya berujar, “Satu porsi nasi itu untuk saya saja ya? sayang mubazir kalau tidak dimakan. Kan sudah dipesan dan telah dibayar semua.” Mendengar permintaan saya, spontan ketua Chapter Barsela cepat-cepat menjawab, “Iya bang, habiskan saja. Orang Bang
nggak muncul juga,” katanya sambil mempersilakan untuk segera dilahap.
Usai sebagian sahabat telah menghabiskan menu berbuka porsi masing-masing, saya masih tetap dalam suasana menikmati gurih dan renyahnya ayam goreng berbalut sambal terasi itu. Tanpa sadar, dua porsi nasi, telah habis. “Enggak habis,” kata saya, sambil mengeser menjauh sedikit piring berisi sisa tulang ayam, dari hadapan saya.
Melihat tingkah ini yang tepat dihadapan saya, sempat menatap sejenak dengan penuh makna. Tapi saya tak pernah ambil pusing arti tatapan anak muda ini. karena saya paham hatinya. Malahan saya berujar, “Wah! Dua porsi nasi habis semua. Entah karena terlalu enak masakannya atau memang abang terlalu lapar,” oceh saya, yang mengundang senyum sekumpul anak muda kreatif Meulaboh.
Tiba-tiba, istri saya berbisik, “Ayah, Indah deman! Panasnya naik tinggi.” Sontak mendengar pesan menakutkan itu, segera meraba kening anak gadis saya, dan ternyata benaran sakit. Tampa basa-basi saya meminta permisi dengan seluruh steemian KSI Barsela untuk membeli obat sang anak. “saya duluan ya! anak sakit,” ucapan pamit sambil meninggalkan lokasi Bukber, menuju aportik terdekat.
Jelas saja hati ini kalut mendengar anak semata wayang sakit, lantaran ia pernah tiga kali mengalami kejang otot (step) karena suhu panas badan terlalu tinggi. Jika ia mengalami reaksi deman, telah menjadi kebiasaan saya yang meninggalkan segala rutinitas, dan fokus empat jam sekali (petunjuk dokter) wajib memberikan sirup pereda panas. Tak hanya itu, saya wajib selalu mengompres keningnya sampai suhu panas badan benar-benar reda.
Maafkan teman steemians KSI Chapter Barsela, saya paling banyak menghabiskan makanan Bukber, tapi saya duluan yang pergi meninggalkan anda semua. Harap maklum beuh! Salam kompak selalu.
Berikut nama teman steemians yang mengikuti Bukber: ,
,
,
,
,
,
,
,
, dan
. Sementara sejumlah rekan lain tak dapat hadir, lantaran ada acara bersama keluarga masing-masing.
(Saya mengenakan pakaian Steemit)
JANGAN LUPA BAHAGIA!