Sudah 2 tahun lebih saya mengenal HIVE blogging, dan mungkin saya termasuk generasi yang baru karena ketika terjadi percabangan dari STEEM menjadi HIVE, saya belum mengenal Dunia Blockchain ama sekali.
Saya masih ingat persis pertama saya buat postingan #introduceyourself , ga ada yang mau upvote saya. Ya ga ada, cuma ada beberapa orang yang mungkin kasihan aja jadi dikasih upvote seadanya yang jumlahnya pun tidak akan cukup buat beli permen sugus.
Tapi inti dari tulisan ini bukan lah tentang perjalanan saya menulis di HIVE. Saya menulis ini karena ingin mengajak saudara, saudari, kakak, adik, om, tante, dan lainnya untuk berkumpul... Mau buka Arisan berantaikah?
UUD
Yang ingin saya sampaikan sebenarnya simpel, bukan arisan berantai, tapi intinya sama... ujung-ujung nya duit
Sekarang kita jujur aja deh, tidak perlu munafik, kenapa kita semua menulis di HIVE? karena PEAKD keren? Ecency ciamik tenan? Dbuzz wooosshhh wooosshhh? Ganti template saja tidak satupun bisa, install plugin tracker dan counter ga bisa semuanya, oh... jualan backlink?
Kalau bukan demi faktor uang tersebut, yang jelas lebih baik facebook, blogspot, wordpress lah. Kompasiana juga jelas lebih disarankan karena diatur anak bangsa sendiri.
Ok jadi kita bahas cara cari uang di HIVE? Terus terang ini susah saya jawab karena apapun yang terjadi di HIVE pasti terkait sama uang dengan mata uang digital yang disebut HIVE. Sampai ada downvote-downvotean pun ujung-ujungnya uang juga.
Tapi bahas uang juga tidak ada habisnya, karena itu saya menulis ini untuk mengajak teman dan rekan semua di sini agar tetap mengingat bahwa kita ini Indonesia. Saya yakin banyak orang yang layak dapat hasil di sini namun terbentur masalah bahasa...
Bahasa Indonesia
Terus terang ada sebuah pikiran yang menghantui saya sejak awal tahun ini ketika saya melihat beberapa orang Indonesia yang menulis dalam bahasa asing yang bukan Bahasa Inggris. Apakah bahasa kita tidak seberharga itu di sini?
Meskipun beberapa hari kemudian saya diberitahu bahwa ada ikan paus yang kasih-kasih upvote ke semua penulis bahasa itu... tetaplah pikiran itu menghantui saya sampai hari ini juga. Apakah bahasa tetangga lebih baik?
Sempat saya berbicara tentang mengangkat para Hivers Indonesia dengan beberapa rekan lainnya juga, namum sampai hari ini mungkin hanya dan
yang bisa menerima lebih dari 60% pikiran saya, atau mungkin pura-pura mengerti saja.
Yang lainnya bagaimana? Mereka rata-rata hanya bersiap-siap saja menerima upvote dan berpikir reward bakalan lebih besar neh. Ya tidak salah juga seh, kan mereka berpikir Hive Power (HP) mereka masih kecil... jadi mereka layaknya terima upvote bukan memberikan upvote... tapi HP saya juga kecil cuy saat itu, cuma 2000an. Tapi sudahlah, nanti jadi debat tidak berujung.
Jadi Intinya Apa Coy?
Iya juga ya, saya menulisnya sudah mulai muter-muter. Intinya itu saya ingin mencoba beberapa program baru, yang semoga bilamana berhasil kita bisa berbangga menulis dalam Bahasa Indonesia dan minimal bisa membeli nasi bungkus di minggu berikutya.
Ada beraneka ragam cara yang bisa ditempuh, masing-masing punya ide sendiri dan saya yakin tidak ada ide yang buruk di sini. Beberapa pernah mencoba idenya langsung, contohnya meskipun tidak berjalan lancar karena masalah ketiadaan bot.
juga salah satu contoh baik, pernah hampir berjaya... tapi sekarang dah bernasib berbeda.
Namun sebelum saya bicara lebih lanjut sehingga tidak berujung, apakah dari teman-teman di sini ada masukan juga? apakah masih pada semangat untuk memajukan tulisan berbahasa Indonesia di HIVE? boleh dikata ini inti dari tulisan saya di sini itu ya ini, mau ngetest ada pembaca asli tidaknya.
Kenapa SATU JIWA?
Mengapa saya membuat tulisan ini di komunitas satu jiwa? ya mungkin karena penglafalan Satu Jiwa mirip dengan Sakit Jiwa. Saya menilai hivians atau hivers lama di sini rata-rata jiwanya bermasalah, rada sakit gitu.
Nulis capek-capek buat apa? Demi rewards yang nilainya juga ga cukup buat makan sekali saja. Berjumpa dengan ikan-ikan paus yang dananya dah miliaran tapi setiap berbicara, intinya tidak jauh-jauh dari lima dollar per tulisan itu sudah berlebihan buat kamu... beli setarbak saja tidak cukup, mentok pol cuma bisa beli dua gelas starlink.
Masih banyak lagi hal aneh yang rada gila di sini, contohnya orang tidak bersalah apa-apa, tiba-tiba disuruh minta maaf setiap hari selama berbulan-bulan. Di sini ente jangan berharap masalah kelar dengan meminta maaf, ga ada lebaran di sini, ga ada ajang saling memaafkan.
Tapi kenapa kita semua bertahan di sini? Saya yakin karena kita semua sakit jiwa melihat potensi di masa depan. Oleh karena itu sekali lagi saya ajak teman dan rekan semua, selagi belum gila beneran, sisihkan waktu dan sumberdaya yang kita punya untuk setidaknya sesekali kita membantu orang-orang Indonesia lainnya di dunia HIVE ini.
Catatan Kredit Dan Apresiasi
- peakd.com yang membantu saya membuat postingan ini beserta fiture gif selectornya.
- Canva.com yang telah membantu menyediakan alat-alat gratis dalam membuat gambar.
- Muhammad Syafi Al - adam atas foto bundaran HI yang indah, yang saya gunakan sebagai gambar pembuka