TIBA-TIBA ingin minum kopi, sesuatu yang jarang saya lakukan. Kebetulan di kantor sedang sepi, sementara tatapan mata saya masih tertuju ke layar laptop.
Meski jam baru menunjukkan pukul 11.30 WIB tapi mata sudah tidak kuat menahan rasa kantuk. Dalam kondisi demikian langsung terbayang segelas sanger hangat.
Tanpa pikir panjang saya minta tolong sama seseorang untuk membelikannya. Tak lama berselang pesanan datang dengan aroma kopi yang menusuk hidung.
Masalah muncul ketika yang datang bukan sanger tapi sanger expresso. Sebenarnya saya sudah curiga dari aroma dan cup kemasan. Kecurigaan saya terbukti karena rasanya berbeda sekali.
Saya pikir, ya sudahlah terima saja. Lagi pula saya bukan penyuka kopi. Bagi saya minum kopi adalah suatu keberanian menghadapi resiko lambung yang sering mengulah.
Beruntunglah bagi anda yang bisa bersahabat dengan segelas kopi.
Kampus Bukit Indah, 28 Februari 2018