Esok yang tak pernah bisa ditebak, jadwal sakit yang tak pernah bisa dikira. Mendengar nama rumah sakit saja, tubuhku sudah begidik. Tak hendak bercita-cita menjadi penghuninya. Rumah sakit bagiku seperti hal yang ganjil, aku merasa disana tak akan pernah ada orang yang tersenyum lepas. Jika ada itupun karena keterpaksaan. Dalam hidupku bisa dihitung berapa kali aku pergi kesana berkunjung menjenguk orang sakit, jika bukan karena dipaksa aku tak akan pergi. Mungkin hanya sekedar titip sesuatu buat si sakit dan salam takzim karena tak bisa datang.
Aku tidak tahu kenapa trauma tentang rumah sakit begitu menghujam kehidupanku. Mual aku mencium bau karbol yang selalu disiramkan, yang katanya untuk mengusir bakteri dan virus berbahaya. Melewati ruangan sebuah kamar mayat, seakan berbicara tentang kehidupan yang berupa ruangan kosong yang kelak pasti ditinggalkan. Makin merinding saja bulu kuduk ini.
Siang itu aku tak tahu pastinya hingga aku harus terbaring di rumah sakit dengan tancapan jarum-jarum infus di tangan. Aku kaget saat sadarkan diri bahwa tubuhku sudah terbaring lemas di salah satu bangsal tempat yang paling aku hindari. Dokter bilang aku telah keracunan makanan, teman-teman pabrik yang mengantar ke rumah sakit. Aku ingat beberapa waktu lalu saat makan siang, aku pergi sendiri ke sebuah warung bukan langganan dan membeli satu porsi nasi kotak. Dan setelah makan perutku melilit tak karuan, muntah dan aku tak ingat lagi, mungkin aku pingsan kemudian teman-teman membawaku ke tempat yang semua dinding dan langit-langitnya berwarna putih.
Ruangan tempatku menginap adalah ruangan kelas melati, maka ranjang pasien yang satu dengan lainnya hanya bersekat kelambu. Dan jika pagi kelambu itu dibuka oleh perawat jaga, maka tersingkaplah semua keadaan. Malam ini dokter bilang aku harus menginap untuk menstabilkan kondisi tubuh, tidak tahu untuk berapa lama. Beberapa teman ada datang menanyakan kondisiku dan akan berjanji datang keesokan harinya selepas pulang bekerja, beberapa lagi merelakan diri untuk kuhubungi jika ada sesuatu yang mendesak. Karena mereka mengerti aku tinggal sendiri di kota rantau ini, maka tak ada seorangpun yang menjagaku. Hanya jika butuh apapun aku bisa menekan tombol di samping ranjang agar perawat datang membantu keperluanku.
Hari ini hari sabtu malam minggu, di malam minggu rumah sakit memang bukan tempat yang riuh, tapi penghuni dan penunggu serta penjenguknya mengalahkan pengunjung alun-alun yang ingin menikmati waktu. Jam 9 malam, hening, sepi terasa. Hawa dingin dari kipas angin yang terus berputar agar udara silih berganti, membuatku semakin ganjil saja. Di sebelah tepat di bangsal aku tidur, terbaring wanita yang sudah sepuh, matanya terus merapat dengan selang infus yang sama denganku. Desahan nafasnya seakan terputus sambung, begitu seterusnya. Aku merasa seperti malaikat sedang menarik ulur maju jatah usianya.
Lelaki di bangsal paling ujung, sudah tak terlihat lagi malam ini. Pagi-pagi sekali perawat dan keluarganya memindahkan ke ruangan ICU karena kondisinya yang sangat mengkhawatirkan, dan aku tak tahu lagi bagaimana nasibnya saat ini. Dan bangsal kosong di ujung itu sudah berganti dengan penghuni baru, wanita paruh baya yang sebagian mulutnya membengkak karena infeksi gigi berlubang. Aku merasa orang sakit begitu melimpah hingga ruangan yang tersedia pun sudah tak memadai untuk menambang. Satu pergi secepat kaki melangkah langsung terisi.
Kulirik jam di dinding yang tergantung tepat di pintu masuk dan keluar ruangan ini, tepat pukul 3 pagi. Sebagian orang sudah terlelap. Beberapa penunggu pasien pun tidur di sembarang tempat, banyak yang lebih memilih menggelar karpet di luar ruangan, berteman dengan nyamuk yang berlalu lalang mencari mangsa juga hawa dingin dan tentunya bau karbol yang bikin mual perutku. Masing-masing seorang keluarga pasien harus menunggui di kursi plastik dekat bibir ranjang, tangannya menahan beban kepala agar bisa sejenak beristirahat. Kadang kala harus rela terbangun hanya untuk memberikan seteguk air pada pasien yang dijaganya atau mengantarnya ke kamar mandi.
Pagi dini hari ini, mataku tak juga mau terlelap. Antara bosan, badan pegal karena tak bisa mengerakkan badan sebebas biasanya. Hening, orang-orang yang terlelap dibunuh jenuh dan rasa capek. Aku merasa ruangan ini seperti ruang menunggu jadwal Malaikat kematian datang memanggil giliran. Seperti antrian panjang untuk masuk pada ruangan lain. Berjalan dan terus berjalan hingga sampai pada pintu lain yang akan terbuka dan mempersilahkan kita masuk. Masuk dan tak akan kembali ke ruangan sebelumnya.
Aah semua tersentak, tiba-tiba di bangsal ujung wanita yang terinfeksi giginya berteriak mengerang kesakitan, teriakan yang menyayat para penghuninya. Mungkin seperti tusukan benda tajam yang menghujam dalam, kulihat tubuhnya kejang. Segera para perawat sigap memberikan pertolongan. Tapi wanita itu sudah diam melesap, dan dokter berkata bahwa nyawanya sudah tak tertolong. Kulihat keluarganya menjerit menangis, yang lain berusaha menenangkan. Anak kecil itu mungkin anak dari wanita itu, ia pun menangis memanggil-manggil sang ibu. Jika kau bisa merasakan benar-benar menyayat hati seperti air didih yang disiram pada luka. Aku menghela nafas panjang, kematian begitu terasa dekat padaku. Mungkin sebentar lagi giliranku... Airmata pun tak henti mengalir. Dinding-dinding putih itu seakan menjelma kain kafan yang siap membungkus jiwa-jiwa di ruangan ini. Tiada lagi keadaan terbaik selain kepasrahan menyebut Asma Sang Pemilik Kehidupan. Ternyata memang begitu kerdil dan hinanya tubuh ini, sekali Tuhan memanggil melalui Malaikat pembunuh waktu maka tamatlah kisah kehidupan ini meski kadang tanpa sebab.
Kematian seperti halnya kehidupan sama-sama sebuah hal misterius yang tak pernah bisa ditebak. Kita manusia hanya terus memelihara rencana dan memanjangkan angan sampai lupa ada suatu hari dimana Malaikat datang dan akan memutus jatah waktu.
Terimakasih sudah membaca, semoga ada hikmah yang bisa dipetik dan disanggulkan pada kehidupan kita.