Telepon dari Pojok Steemit, Taman Ismail Marzuki
Image Source
Aku flu berat, membuatku malam itu aku harus sedikit beristirahat di rumah. Badan terasa lemas, kepala sedikit pusing. Karena belum bisa tidur, maka ditemani secangkir kopi hangat, sebungkus rokok, dan segulung besar tisu, sejak usai buka puasa aku hanya duduk-duduk depan komputer di ruang kerja. Sengaja menyendiri, tidak duduk-duduk bersama keluarga, karena aku harus menghindarkan flu agar tidak tertularkan ke anak-anak khususnya.
Sekitar 21.15 WIB, saat aku tengah menonton teknik-teknik memanah tradisional ala Turki di Youtube sambil memijat-mijat kepala, layar telepon selular kemudian menyala, pertanda ada panggilan masuk (HP memang dari petang kebetulan nada deringnya kuatur ke mode silent).
Di layar tertulis sebuah nama yang begitu akrab, walau tak begitu sering muncul di panggilan: "Willyana".
Aha, Willyana!
Ada apa nih, bikin kaget aja? Kaget serius. Karena kagetnya aku sampai harus melepas 2 kali bersin dulu. Segera saja setelah telepon kubuka, tidak pakai berhenti lagi Ana menembak telingaku dengan suaranya yang begitu kuakrabi. Aku pun begitu riang dan semangat menyambutnya, hingga membuat aku sempat lupa jika aku tengah demam flu!
Image Source
Dan semakin membuat aku riang, rupanya Ana meneleponku dari sebuah rumah yang pernah kuakrabi, Pojok Steemit, pintu gerbang Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Beberapa bulan lalu aku sempat merasakan kebersamaan dan kenyamanan malam di sana. Rupanya Ana dan kawan-kawan lain sedang berkumpul di sana malam itu. Ada ,
,
dan
. Wah, ramai!
Sesudah Ana yang berbicara padaku tentang kelanjutan rencana Festival Sastra Bengkulu, Juli 2018 kelak, maka teman-teman lainnya berganti-gantian bicara padaku. Kami bersemangat sekali, apalagi yang menyapaku "Halo Jenderal!", maka kujawab saja " Halo juga, Atasan Jenderal!".
Iwan Kurniawan juga menyampaikan kepadaku tentang rencana pengembangan untuk aktivitas ber-steemit. Hm, aku kira itu rencana yang bagus dan akan aku tunggu perkembangannya selanjutnya. Yang jelas, apa pun itu rencananya, jangan lupa untuk mengajak aku serta.
Pada aku buru-buru minta maaf, karena aku janji akan menginap di tempatnya saat di Jakarta kemaren sepulang dari Banten. Namun, ternyata malam berikutnya aku harus bermalam di sebuah penginapan murah di Banten, karena selain memang malam itu hujan turun deras, dan aku juga sudah begitu lelah untuk kembali ke Jakarta.
Image Source
Ana menyampaikan keinginan, agar dalam salah satu mata kegiatan Festival Sastra itu nanti ada acara semacam kunjungan budaya ke Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong. Untuk itu mereka meminta agar aku menjadi penghubung ke kedua kabupaten itu. Aku kira itu rencana yang baik dan patut didukung. Kedua kabupaten itu, melalui sastrawan-sastrawan yang hadir akan dapat lebih diperkenalkan keluar Bengkulu. Apalagi saat ini Bengkulu dengan kabupaten-kabupatennya tengah memarakkan kegiatan peningkatan industri pariwisata dengan program Visit Bengkulu 2018, yang tentu saja semua potensi yang ada harus dioptimalkan kesuksesan program itu.
Kita bayangkan saja, sesudah pulang dari Kepahiang dan Curup, barangkali saja, dari seorang Ahmadun Yosi Herfanda akan muncul puisi tentang Kabawetan atau Suban Air Panas. Atau juga dari Mustafa Ismail akan melahirkan sebuah puisi berjudul "Kusunting Rafflesia untuk Kuselipkan Di telingamu". Dari
akan menulis puisi"Ke Curup dengan Cinta". Hahaha... siapa tahu 'kan?
Untuk rencana yang baik dan langka ini, akan aku coba dan berusaha mewujudkannya. Tentu aku berharap, agar rencana ini bisa mulus dilaksanakan, akan lebih baik jika keterlibatan pihak Pemerintah Kabupaten dikoordinasi secara administratif oleh pihak Pemerintah Provinsi Bengkulu. Ini bukan kegiatan kecil, tetapi ini adalah sebuah even berskala nasional, yang tentu saja tidak bisa asal-asalan aku mengurusnya. Juga diperlukan argumentasi yang baik untuk meyakinkan pemerintah daerah tentang betapa urgensinya kegiatan ini bagi perkembangan kebuadayan dan pariwisata daerah.
Kenanganku saat mengunjungi Pojok Steemit. Bersama Bang Din Saja, ,
dan
Silakan baca Story # Mengunjungi Pojok Steemit, Taman Ismail Marzuki
Kurang lebih 45 menit telpon-telponan itu. Semuanya berlangsung penuh guyon, riang, canda dan gembira. Apakah karena kami sahabat lama? Sama sekali tidak, bahkan dengan aku belum belum bertatap muka secara langsung. Tetapi kenapa bisa menjadi akrab?
Aku percaya, waktu bukanlah jaminan untuk kita bisa menjadi dekat, karena banyak orang telah bersahabat lama pun tak mampu menjadi dekat dan akrab. Waktu memang bisa saling memperkenalkan, namun rasanya belum tentu perkenalan itu serta-merta membuat orang-orang menjadi "kenal".
Adalah kehendak dan pandangan yang sama bisa membuat kita bisa menjadi dekat dan akrab. Demikianlah, aku dengan kawan-kawan di Pojok Steemit, kita sama-sama penulis, menyukai dunia sastra, dan semakin dekat karena kita semua dipertemukan dalam sebuah rumah bernama Steemit, rumah yang kita sepakati untuk menjadi titik-pulang bagi semua jarak dan siapa diri kita.