Selalu ada perjuangan menuju pencapaian. Begitulah selogan pendek yang kerap menguatkan saya untuk terus melangkah maju menyongsong masa depan. Resmi berdirinya KSI-Chapter Taiwan, mengajarkan banyak tentang hidup dan perjuangan. Sabtu sore, seperti biasa saya dan sibuk berkutat dengan persiapan acara yang akan dihelat pada Minggu (18/03), hari bersamaan di mana kami akan mengukuhkan KSI-Chapter Taiwan.
Beberapa dari rekan-rekan memang bertugas sebagai panitia di Perhelatan Musyawarah PCIM Taiwan. Sedari pagi kami disibukan dengan agenda acara. Deklarasi kami agendakan pada jam istirahat. Sedangkan pimpinan Redaksi TIMedia juga mengundang untuk acara makan siang sembari membicarakan project acara yang akan dihelat pada perayaan Iedul Fitri Mendatang. Putar otak pun lakukan, bagaiamana caranya deklarasi KSI-Chapter Taiwan tetap terselenggara, tetapi saya juga bisa menghadiri undangan meski hanya datang satu jam.
Saat menyampaikan Visi & misi ASF
Namun waktu berkata lain, jarum jam menunjukan pukul 12. 45 menit waktu Taipei, sedangkan kusodorkan alamat tempat makanan pada sopir taksi, katanya jarak tempuh kesana sekitar 20 menit. Pukul 1.30 saya harus memberi sambutan saat launching buku ”Aksara Formosa: Ketika Hati Berbicara”. Buku ini Antologi Puisi ini berisikan 53 puisi hasil karya rekan-rekan PMI, Mahasiswa Indonesia, Siswa PKB-MT , dan para dosen pembimbing.Buku ini didedikasikan perayaan Musyawarah PCIM Cabang Taiwan.
Cover Simbolik Buku Antologi Bersama
Akhirnya kuurungkan mengikuti rapat tersebut, mengingat waktu benar-benar tak memungkinkan. Padahal saat itu saya berada di dslam taksi. Karena hanya akan berada di jalan saja. Untuk perjalanan sudah membutuhkan 40 menit, sementara 40 menit kemudian acara serah terima buku secara simbolik akan dilaksanakan.
“Ya Allah, semoga semuanya baik-baik saja,” doaku dalam hati.
Ketika tengah khusyuk menyimak acara, sebuah pesan masuk ke dalam gadget, “Mba Etty, lain kali harus bisa datang memenuhi undangan, yang lain saja sudah menyediakan waktu,” pesan dari salah satu editor redaksi.
“Maaf, Mba. Sungguh di luar dugaan, karena setelah naik taksi, saya baru tahu jika jarak tempuh lumayan jauh, dan saya harus ada di acara ini,” tuturku menjelaskan.
“Iya. Tapikan Bapak pimpinan sudah memesankan tempat dan makanan untuk Mba Etty, dan kalau Mba gak bisa hadir kita harus membayar denda.”
Untuk penjelasan yang ini, saya tahu mereka pasti kecewa. Apalagi Orang bermata sipit dan berkulit putih sudah pasti perhitungannya luar biasa.
“Ia Mba, Maaf. Lain kali akan saya usahakan hadir untuk memenuhi undangan,”
Dan akhirnya aku pun larut dengan kegiatan, meninggalkan rasa bersalah yang benar-benar membuatku gundah. Hingga suasana liburan, benar-benar menjadi tidak nyaman saya rasakan.
Bersama Srikandi KSI-Chapter Taiwan
Mungkin karena bawaan hati, sisa setelah acara hingga malam saya kurang bersemangat. Akhirnya kuputuskan untuk pulang lebih awal dengan menaiki bus biasa, nomor 215. Di gemerlapnya kota Taipei dengan pendar cahaya bulan, bus merah itu membawa pulang ke tempat kerja. Sepanjang perjalanan, kupejamkan mata, sambil merebahkan pundak ke kursi angkutan.
Dua puluh menit berlalu, sampailah saya di sebuah gedung apartement tinggi menjulang. Setelah mengucapkan terima kasih pada sopir angkutan, saya pun melangkahkan kaki mendekati apartement tersebut. Sebuah apartement mewah dengan pengamanan ketat. Hanya seseorang pemegang kartu keluar masuk baru bisa bebas hadir dan pulang. Setelah di dalam lift, kutekan angkat 7 menuju tempat kediaman. Dan betapa terkejutnya diriku, melihat pasien yang kurawat dalam keadaan lemah tak berdaya dengan raut wajah pucat.
Si Boss segera meminta saya ganti baju, dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oma di rumah sakit. Karena beliau harus masuk Intensive Care Unit (ICU). Dengan cekatan dokter pun menangani dan kami harus menungguinya di rumah sakit. Sedangkan waktu telah menunjukan pukul 02.00 pagi hari. Akhirnya kami serombongan pulang dengan saat menjelang subuh. Kami sampai di rumah pukul 03.00 pagi hari, padahal seharian blas gak bisa istirahat. Pukul 04.00 saya baru bisa lelap sekejap. Badan sudah tak tahu berasa seperti apa. Namun satu yang saya yakini.
Melakukan semuanya demi kebaikan dan kemajuan bersama.
Taiwan, 23 Maret 2018