Sampah merupakan masalah terbesar yang sering kita jumpai, tak usah jauh-jauh untuk melihat sampah yang berserakan di luar sana, seperti di jalanan atau tempat umum lainnya. Di rumah saja, terkadang kita bingung dengan tumpukan sampah yang begitu banyaknya. Terutama pada sampah yang dihasilkan oleh sisa makanan.
Kemudian sampah tersebut dibuang begitu saja di keranjang terbuka yang akhirnya mendatangkan lalat. Tanpa kita sadari, lalat yang hinggap pada tempat sampah kita, bisa saja hinggap kembali di gelas minum atau piring makanan, sehingga nantinya akan membawa bibit penyakit.
Sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga biasanya berupa sampah organik dari sisa sayuran dan makanan yang sebenarnya bisa didaur-ulang bila kita mengetahui caranya. Pada dasarnya sampah organik ini adalah limbah yang dihasilkan oleh makhluk hidup yang masih bisa digunakan kembali dengan cara melakukan pengolahan.
Namun, perlu diingat bahwa seorang mantan tidaklah termasuk dalam golongan sampah organik, karena tidak memungkinkan untuk didaur ulang, meskipun dia termasuk pada golongan makhluk hidup yang masih bisa diolah.
Cara mengelola sampah organik rumah tangga
Banyak cara sebenarnya yang bisa dilakukan untuk mengelola sampah organik. Namun, ada satu cara yang menurut saya efektif untuk dilakukan bila ingin mengelola sampah tersebut sehingga memiliki daya guna kembali. Salah satu caranya adalah mengolahnya agar menjadi pupuk dengan menggunakan metode takakura.
Metode takakura ini pertama kali di temukan oleh seorang ahli kimia terapan dari Himeji Institut of Technology di Jepang bernama Koji Takakura. Beliau berhasil menemukan metode yang efektif untuk mengurangi timbunan sampah pada skala rumah tangga melalui keranjang takakura. Keranjang takakura ini sebenarnya sangat mudah dibuat dengan alat-alat yang masih terjangkau. Kita hanya perlu merakitnya saja bila ingin membuat sendiri keranjang tersebut.
Tinggal beli saja keranjang baju kotor yang memiliki lubang untuk sirkulasi udara, dua bantalan sekam yang bisa dibuat sendiri untuk menjaga suhu di dalam keranjang (bisa menggunakan sekam padi atau serbuk kayu), dan satu buah kardus yang bagian atasnya dipotong (fungsinya agar tidak menimbulkan bau dari pembusukan sampah), pupuk kompos dengan volume setengah dari isi keranjang. Serta tinggal dibuat saja mikroorganisme lokal dari fermentasi buah busuk sebagai tempat berkembang biak bakteri. Bakteri ini berfungsi sebagai starter dalam proses penghancuran sampah organik yang berlangsung pada keranjang takakura.
Pembuatan keranjang takakura di Panti Asuhan BTRG,
Uleekareng, Banda Aceh pada Tahun 2010
Proses pengomposan bisa berlangsung selama satu bulan, cara mengetahuinya adalah dengan memegang sampah yang berada pada keranjang takakura tersebut. Bila masih terasa panas, itu artinya bakteri yang ada masih bekerja dalam mengurai sampah. Namun, bila sudah dingin, berarti komposnya sudah matang dan siap untuk diaplikasikan pada tanaman. Hal ini juga termasuk dari salah satu program pembangunan berkelanjutan secara sederhana dan bisa dilakukan oleh siapapun.
Photos 1, 3, 4 taken from Unsplash