Setelah selesai shalat magrib, android pun berbunyi seolah mengisyaratkan ada sebuah pesan yang harus ku balas.
Benar saja, sebuah foto dikirim kan pada aplikasi whatsapp, dan ini adalah sebuah malapetaka karena foto itu berupa foto rendang.
Ya, rendang virtual ini dikirimkan oleh sahabat sekaligus musuh bebuyutan ku, siapa lagi kalau bukan Icha. Kenapa dia bisa segitu menyebalkan nya hingga status "musuh bebuyutan" pun kusandingkan pada dirinya, karena kita memang sering memamerkan semangkuk makanan, dan segala sesuatu tentang kesukaan masing-masing yang saat dipamerkan akan menjadi sebuah keniscayaan untuk diperoleh pada detik itu juga.
Meskipun dalam segala hal kita memiliki segelintir perbedaan, dari sekedar sudut pandang hingga gaya hidup. Seperti Icha yang lebih memilih paham liberal dan saya yang memiliki pemahaman bahwa lelaki dengan mata tajam itu adalah sebuah anugerah yang harus dinikmati, namun kalau soal makanan, kita lebih sering seperti anak-anak yang berebut mainan kesukaan, walaupun ujung-ujungnya tetap akan berbagi.
Bagiku pertengkaran-pertengkaran kecil adalah sebuah candu, candu inilah yang akhirnya membuat batang otak ku menyimpan memori-memori yang tak mudah terhapus.
Perkara malapetaka ini sebenarnya sudah terjadi pada pagi hari tak lama setelah mataku terbuka dari posisi tidur, ketika kita sedang mengobrol melalui telepon, Icha yang tidak bisa menghapus DNA nya sebagai orang Aceh dan kecintaan lidahnya terhadap masakan Aceh, memintaku mengirim ikan kayu (tongkol rebus yang kemudian dikeringkan) dan beberapa lembar selipan daun teumurui (daun kari). Lantas sebagai rasa sayang, telah kujanjikan mengirimkan hal tersebut ke apartemen nya. Namun celaka tak bisa dicegah, Icha mengatakan akan memasak rendang. Kukira itu hanyalah sebuah ancaman untuk membuat perutku keroncongan saja. Sayangnya hal itu memang benar-benar terwujud.
proses memasaknya pun dikirimkan, padahal tak penting kalau tidak dalam bentuk nyata
Lalu sebuah foto nuget pisang pun kukirimkan sebagai upaya balas dendam, dewi fortuna tak memihak, ternyata hal itu menjadi kesia-siaan tersebab Icha yang sedang melakukan diet carbo.
Kali ini kekalahan memang memihak padaku, tapi tunggulah pembalasan pada kali selanjutnya.