Ini rumah Kakek di Piyeung.
Saya tiba-tiba ingin memposting foto ini setelah mengikuti meet up Steemit chapter Banda Aceh siang tadi. Sebab tempat pertemuannya sama persis seperti rumah Kakek. Sama-sama berbentuk rumah panggung dan bercorak Aceh khas.
Ingatan saya pun berputar
Piyeung adalah nama salah satu desa di Montasik, Aceh Besar. Tempat almarhum Bapak dibesarkan bersama saudara kandungnya yang lain.
Usianya sudah puluhan tahun. Bersebab semuanya pindah ke kota, rumah panggung itu kerap kosong. Pernah berbilang tahun kosong tanpa penghuni sebelum akhirnya di rawat kerabat jauh.
Bercerita tentang Piyeung, bercerita tentang konflik Aceh. Dulu daerah ini termasuk area merah. Kerap terjadi kontak senjata. Sweeping hal lumrah. Jalanan penuh drum bekas dan kawat berduri. Hingga kami, sulit untuk pulang sekedar bertemu Kakek dan Nenek.
Bercerita Piyeung, teringat dengan sumurnya yang dalam. Konon kata Nenek, sumurnya tersusun lebih dari 30 cincin. Dulu sekali, saat pulang kampung, saya kecil sering berteriak di bibir sumur hingga bergema suara. Sangking dalamnya untuk menimba air terpaksa dibantu katrol.
Bercerita Piyeung, teringat dengan dapur nenek yang lantainya tersusun dari belahan bambu. Saat memasak, sisa air atau makanan dibuang Nenek dari sela-sela bambu. Bebek kampung berebutan di bawahnya.
Bercerita Piyeung, teringat juga dengan kebun langsat dan rambutannya yang ranum. Ada sungai kecil yang memisah kebun menjadi dua area. Sekali waktu, saat panen tiba, saya beserta saudara lainnya datang menyerbu kebun. Membawa bergoni-goni rambutan dan langsat ranum.
tempat berlangsung meet up Steemit Aceh
Itu dulu
Saat Kakek dan Nenek menempati rumah itu.
Kini, suasana berubah. Walau telah ditempati kerabat jauh, kehangatan tak lagi terasa.
Semenjak Kakek dan Nenek meninggal, saya jarang pulang ke Piyeung. Sekalipun pulang, saya merasakan suasana berbeda.
Sepi.
Kayu rumah pun pelan-pelan dimakan rayap. Mungkin bentuknya yang besar menyulitkan saat perawatan.
Maka, di saat keriuhan meet up Steemit Banda Aceh berlangsung, saya pun kembali merindukan suasana Piyeung. Merindukan Kakek dan Nenek.
Steemian Banda Aceh berkumpul