Selain sebagai penebang ulung, peneguk kopi aktif, pada masa hidupnya ayahku juga dikenal sebagai seorang tabib. Konon dari mulut orang-orang kudengar ayah menguasai banyak ilmu dalam dan mantra-mantra yang pada kearifan masyarakat kami disebut "doa". Ia juga mahir silat. Hal itu membuat ayahku disegani oleh banyak orang dan hampir-hampir tak punya lawan. Dari sekilas perkenalan itu, mungkin kau akan membayangkan bagaimana "angkernya" ayahku. Tapi kau salah. Ayahku tidak mengerikan. Jauh dari kesan menakutkan. Setidaknya bisa kulihat sendiri bagaimana ketika ia berbaur dengan temannya sebaya dua. Ayah menunjukkan betapa ia adalah pribadi yang menyenangkan. Teman-temannya selalu betah duduk dengan ayah sebab ia pandai membuat kelucuan.
PELAJARAN MELUCU
Kenyataannya, ayahku adalah seorang lelaki yang sangat humoris. Ini bukan hanya pengakuan kami keluarganya. Setiap yang mengenal dekat Ayah mengatakan begitu. Kami mencintainya sebab kelucuan-kelucuannya itu. Dan setelah Ayah meninggal, setiap berkumpul kami selalu sempat mengulang satu dua joke yang pernah ia lemparkan ketika masih hidup. Kelucuan, saudara, jika pandai kau olah akan membuatmu terkenang-kenang. Pelajaran pertama, orang lucu selalu mendapatkan tempat khusus dalam hidup. Maka, meluculah.
Selain pandai melucu, Ayahku juga bukan tipe stagnan. Joke-joke yang ia lemparkan selalu segar, menggelitik, bernas dan berkualitas. Jika ayah sudah mulai bercanda, kami akan mencari cara agar keadaan itu tidak cepat selesai. Ternyata, pelajaran kedua yang saya dapatkan di sini adalah bahkan untuk membuat seseorang tertawa kau harus memiliki kecerdasan dan selalu mau menghasilkan sebuah kebaruan. Selucu apa pun ceritamu, jika kau ulang dua tiga kali, itu akan terasa hambar dan tidak lucu lagi. Trust me!
Pelajaran ketiga..
Tiba-tiba tanganku pegal, kopi habis, bantal memanggil. Apa daya, terpaksa dicukupkan sementara sampai di sini. Kita lanjutkan lain kali.