Langsung saja. Saya tidak senang dengan segala yang garing alias gagal bikin teugeureuhing. Perlu saudara ketahui bahwa teugeureuhing adalah kata kerja dalam bahasa Aceh, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sama dengan "tergelak atau tertawa bahagia". Sudah!
Kamu juga tidak suka yang garing, tentu saja. Begitu menjenuhkan mendengar sebuah lawakan yang garing. Jauh lebih baik menyaksikan kepiluan yang total: berdarah-darah, bernanah-nanah. Tapi kadangkala tontonan-tontonan kepiluan itu juga sering garing. Kalau sudah begitu, saya memilih duduk di kamar, menulis apa saja. Kalau tulisan itu kemudian menjadi garing untuk saya sendiri, saya tidak menghapusnya, hanya saja tidak lagi mengulang-ulang membaca. Tidak juga saya bagikan kepada saudara. Alasannya sederhana, jika saya sebagai pemiliknya saja merasa garing, bagaimana mungkin tidak menurut yang lainnya?
Ada waktu kepala kita tidak bisa memproduksi karya yang tidak garing. Pada kala demikian, saya akan membaca tulisan lain: bisa jadi sampai berpuluh-puluh tulisan lain sesuai yang saya suka dan ingin. Kalau bacaan lain pun sudah mulai garing. Saya tutup buku atau link, lalu akan merenung sekedar mencari ide yang bening. Kalau ternyata ide-ide yang kudapat rupanya garing, saya berhenti merenung. Paling kemudian saya tidur.
Kalau dalam tidur (celakanya) saya mendapatkan mimpi yang garing, begitu bangun saya akan berdoa agar diserang insomnia terparah sehingga saya bisa membuat tubuh ini lelah dan tidur nanti tanpa bermimpi apa-apa.
Dalam insomnia berat, tiba-tiba saya merasa penyakit itu sudah garing. Saya akan keluar rumah, mencari cakrawala dalam bentuk lain. Nyatanya ia juga garing, saya pulang lagi dan berbaring. Lama-lama baringan terasa garing, saya bangkit. Pergi ke tempat bising.
Di tempat bising pun segala suara terdengar garing, saya duduk di meja paling sudut dekat kasir. Saya tulis ini. Ketika tulisan ini saya rasa sudah cukup panjang dan semakin garing, saya segera mencari kata akhir. Agar tak sia-sia, maka ini saya posting.