Simpan untukku cinta sepeti
Kepadamu aku kembali
(Syair)
Kupanggil ia Cutkak saja. Namanya yang kukenal Alaika Abdullah atau . Untuknya saya akan berkisah.
Bertemu dengannya di Villa Neglasari, Cimahi dan sama-sama sebagai anggota budiman di KSI. Saya hanya mendengar beberapa celoteh perempuan ini dan semua biasa saja. Kecuali malam besoknya di Waroong KAI seputar Setiabudhi. Dia tiba di sela kami bernyanyi, menikmati hingga lunas panggung kami, dan pulang dengan titip sayang berarti. Saya menyimpan usap kepala darinya ketika ia hendak pulang malam itu, hingga terbawa kenang kala kami tiba di kampung kami yang jauh.
Hari-hari melunturkan ingatan. Segala kenangan bias ke cakrawala, meski sesekali masih terasa ia tiba di sela renung nir-swara. Kami akan kembali ke Bandung. Lebih cepat dari rencana yang berarti membutuhkan tempat bernaung. Kami tidak begitu bingung. Toh jika pun harus merusak tabung, segalanya sudah kadung. Kami tetap akan ke sana dengan segala yang entah bagaimana. Dengan kesiapan yang dicukup-cukupkan dan segala yang meresahkan selama rencana.
Cutkak Alaika mengabarkan akan menyediakan kami tempat menginap, di sebuah apartemen mewah Gateway Cicadas yang berkolam renang, di kamar yang tenang. Sembuh sejenak kami dari mengawang harap. Dan di sanalah pangkal kami terkesiap. Siapa kami untuknya? Hanya terikat di komplotan KSI belaka, dan kami hanya anak muda yang diusap kepalanya ketika akan pulang berpisah dengannya tempo masa. Kami duduk berembuk, menenangkan haru yang berkecamuk. Bahwa hari ia mengabarkan akan menerima kami di tempatnya, tahukah ia nun di ruang rapat kami yang sederhana bersama-sama kami berdoa semoga hidupnya diberikan segala kebahagiaan oleh Rabbana?
Apa yang terkenang-kenang tentang Cutkak Alaika pada perjalanan kedua adalah penerimaan penuh cinta. Disambut serupa keluarga, menjadi bagian hidupnya. Seketika ia buka hati kami untuk merindu serak suaranya. Setiap entah kemana, kami terlanjur sering bertanya, “Cutkak di mana, apakah dia ikut serta?”
Dia bawa kami ke segala ruang yang selama ini kami pelihara di khayal, diberikan kami segenap kesenangan. Ia tatap kami dengan rasa sayang seorang kakak pada adik-adiknya. Dia telah menundukkan segenap ksatria bengal menjadi anak manja yang selalu butuh usap sayang. Cutkak selalu curiga kami tak bisa membawa diri, maka ia terus menerus bertanya sudah bagaimana keadaan kami. Selalu memastikan kebahagiaan apa lagi yang kami ingini.
Cutkak telah hidup di kepala kami sebagai ingatan. Tumbuh di hati kami sebagai cinta. Menyala di nadi kami serupa api. Dan di hatiku? Di sana ia abadi. Sebagai bagian hidup yang kucintai. Sebagai tanda ia selalu dibawa di hati, pernah ia memberiku jubah, dan jubah itu kerap dan akan selalu kubawa ke setiap pertarungan sebagai semangat diri.